Minggu, 25 Oktober 2020

Prabowo Subianto 2019-2024: Negara Kuat

Prabowo Subianto 2019-2024: Negara Kuat

Jakarta, Swamedium.com — Calon Presiden Republik Indonesia pada saat debat pertama tanggal 17 Januari 2019 dan ke empat 30 Maret 2019 dan berbagai kesempatan menekankan: “pentingnya Negara yang kuat, Negara kuat jika Institusi atau Lembaga Negara kuat, demikian pula ditunjang dengan pengelola Negara yang professional, bersih dan berwibawa”. “Bangsa yang kuat, mandiri, berdaulat maka akan dihargai dan dihormati bangsa-bangsa lain termasuk dalam diplomasi”. “Negara yang kuat jika memiliki TNI yang kuat disertai Alat Utama Sistem Persenjataan yang kuat dan modern maka akan disegani bansa lain”. “Keamanan Dalam Negeri terpelihara jika institusi Nepolisian Negara yang kuat”. “Rakyat mendapat keadilan dihadapan hukum, jika institusi Kepolisian terpercaya, bekerja secara independen, profesional, moderen, sejahtera”. Aparat Penegak Hukum (Polisi, Jaksa, Hakim) harus kenyang, sehat dan pintar supaya bekerja profesional, objektif dan imparsial dan menegakan hukum”.

Kalimat pajang tersebut di atas merupakan ringkasan dari sederet ungkapan hati, ide, gagasan Prabowo Subianto membawa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat, pemenang dan keluar dari negara yang terancam gagal (falls of nations). Prabowo Subianto seorang jenderal intelektual, politikus, negarawan yang cemerlang, saban hari menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku terbaik dalam berbagai bahasa. Salah satu buku yang pernah dibawahnya saat debat ke dua Capres tanggal 17 Pebruari 2019 berjudul “Fals of Nation (Negara Gagal)”. Buku karangan Daren Acemoglu seorang ilmuan Amerika keturunan Turki. Inti dari buku Negara Gagal tersebut berkesimpulan bahwa “Negara Gagal karena sumber daya alam dikuasai sekelompok kecil oligarki, sementara kebijakan politik dan hukum negara berorientasi untuk memperkuat kepentingan sekelompok kecil oligarki ekonomi dan politik tersebut”. Sehebat-hebatnya membangun infrastruktur untuk mengejar ketertinggalan negara lain, tetapi tetap saja menjadi negara miskin dan gagal sebagaimana kesenjangan (gap) antara Amerika Serikat dan Meksiko, Korea Utara dan Korea Selatan, Jerman Barat dan Jerman Timur yang memiliki infrastruktur sama, namun label sebagai negara gagal tetap melekat di Meksiko, Korea Utara dan Jerman Timur sebelum reunifikasi.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.