Senin, 26 Oktober 2020

‘Ulama Hoaks’

‘Ulama Hoaks’

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Jakarta, Swamedium.com — Foto surat dan video terkait kecurangan pilpres viral. Bentuknya macam-macam. Sangat banyak jumlahnya. Tak ada yang bisa bantah. Apapun bentuk klarifikasi tak akan bisa membalik fakta yang ada di otak rakyat. Apa yang rakyat telah lihat, tonton dan rasakan tak akan bisa dianulir oleh argumentasi apapun. Apa yang mereka lihat lebih nyata dari kata-kata yang keluar dari lidah siapapun.

Seorang Ajun Komisaris Sulman Aziz, eks Kapolsek Pasirwangi Garut Jawa Barat, mengaku telah diberi instruksi untuk memenangkan paslon tertentu. Habis itu, dianulir dengan memberikan keterangan bahwa dia khilaf atas pengakuannya itu. Kita tak perlu menyimpulkan mana yang benar: pengakuan pertama, atau pengakuan yang kedua? Rakyat tidak bodoh. Pesan yang disampaikan eks Kapolsek ini sudah ditangkap substansinya oleh rakyat.

Sejumlah video keterlibatan aparat dalam kampanye untuk mendukung paslon tertentu seolah mengkonfirmasi pengakuan eks Kapolsek itu. Makin kuat file itu tersimpan di kepala rakyat. Dan tak akan bisa dibantah oleh siapapun. Kendati rakyat diam dalam keprihatinan.

Lalu, bagaimana efektifitas Telegram (TR) Kapolri yang menginstruksikan agar polisi netral? Ada dua pertanyaan di benak publik: Pertama, apakah instruksi itu serius? Kedua, apa ada jenderal lain yang lebih kuat dari Kapolri?

Tak hanya aparat, beredarnya surat pernyataan seorang lurah untuk memenangkan paslon tertentu juga bentuk pelanggaran yang lain. Instruksi Bupati kepada para lurah untuk memobilisasi warganya agar pilih paslon tertentu juga bagian dari pelanggaran kampanye.

Belum lagi instruksi para menteri kepada jajaran pegawainya di bawah. Masyarakat tidak buta untuk menyaksikan tontonan yang memprihatinkan itu.

Pasukan sembako berkeliaran di jalan hingga gang. Menebar satu bungkus berisi beras dan sarimi untuk ditukar nasib rakyat selama lima tahun ke depan. Kalender, majalah dan selebaran menyasar masjid dan pesantren. Kampanye hitam atau “black campign” terus bergerilya menyasar dan merusak otak serta moral rakyat. Lalu, kemana Bawaslu? Cukup dengan satu jawaban: mandul! Hari gini anda masih tanya Bawaslu?

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.