Senin, 26 Oktober 2020

Spiral Keheningan Prabowo Meledak di GBK

Spiral Keheningan Prabowo Meledak di GBK

Jakarta, Swamedium.com — Pada Juli 1998 atau dua bulan pasca lengsernya, Soeharto mengumpulkan keluarga Cendana di Puri Retno. Soeharto meminta anak-anak, menantu, dan cucunya menerima kondisi pahit tersebut dan berusaha tabah melaluinya. Mundur bukan hujatan mereda, justru sebaliknya serangan demo dan narasi-narasi merendahkan terus menerjang kepada seluruh yang berbauh cendana.

Prabawo yang menjadi bagian tak terpisahkan dari cendana terus juga dipojokkan atas berbagai tuduhan yang berkaitan dengan hilangnya beberapa mahasiswa aktivis reformasi, terlebih setiap jelang pemilu dimana Prabowo menjadi salah satu kontestannya. Dari seluruh penjuru mata angin sang jenderal difitnah dengan berbagai tuduhan yang dibuat secara sepihak dengan motif politik dan penyingkiran.

Menghadapi serangan dan tuduhan sebagai dalang penculikan aktivis mahasiswa, sang jenderal lapangan ini memilih diam tidak bereaksi. Jenderal perang ini memilih diam dalam sepi, menghindar dan menyibukkan diri menjadi pengusaha.

Berdamai dengan hinaan untuk membuktikan diri bisa meneruskan perjalanan ke depan tanpa merecoki bangsa. Menghindar bukan berarti penakut atau salah, tetapi tidak mau menghabiskan energi positifnya melayani orang yang digerakkan pikiran negatif. Disinilah cerdasnya Prabowo menghadapi segala macam hinaan dan tuduhan dengan teori “spiral keheningan” yang menjebak lawan sampai kehabisan tenaga.

Spiral of Silence Theory atau Teori Spiral Keheningan merupakan salah satu teori komunikasi massa. Secara bahasa, teori spiral keheningan diambil dari kata ‘Spiral’ yang berarti suatu perputaran lingkaran dan ‘Keheningan’ yang berarti sunyi.

Prabowo pada awal-awal reformasi tidak larut dalam keterasingan publik, justru tetap dan terus membina hubungan silaturahmi dengan semua orang yang berada dalam lingkarannya dengan hening tanpa harus dieksplor beritanya di media massa. Teori ini mengatakan bahwa tidak selamanya orang yang mengalami isolasi dan keterasingan akan selalu hilang dari peredaran. Sewaktu-waktu ia akan muncul kepermukaan ketika sudah mendapatkan momentumnya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.