Senin, 19 Oktober 2020

Jawaban untuk SBY: Kampanye di GBK Memang Banyak yang Janggal

Jawaban untuk SBY: Kampanye di GBK Memang Banyak yang Janggal

Jakarta, Swamedium.com — Beredar surat sby yg mempertanyakan ketidaklaziman kampanye 02 di gbk hari ini krn dianggap tdk inklusif. Saya tahu arahnya ke mana yakni adanya tahajud bersama, subuh berjamaah dan lantunan sholawat.

Nah, dalam hal ini saya ingin membahas dua hal yakni:
1. Kenapa sampai terjadi ketidaklaziman kampanye
2. Apa yg dimaksud dg kampanye tidak lazim dan tidak inklusif

Kampanye ini dianggap sby tdk lazim krn adanya tahajud, subuh berjamaah dan sholawat dalam run down acara. Dari pengalaman gerakan 212, saya ingin mengatakan ketidaklaziman ini dimulai dari adanya pihak yg tdk ingin acara sukses.

Gerakan 212 diupayakan tdk sukses dg mencegah bus mengangkut penumpang dari luar kota. Ada aksi ada reaksi. Alih2 mencegah, justru reaksi santri ciamis yg memutuskan utk jalan kaki long march ciamis jakarta malah menjadi stimulus bagi tdk terbendungnya lautan massa ke monas. Saya haqqul yakin, andai tdk ada stimulus santri ciamis, peserta 212 tdk akan sebanyak itu.

Sekarang kampanye 02 diusahakan tdk sukses juga dg memberikan alokasi waktu kampanye yg tdk lazim juga yakni berakhir pukul 10. Lazimnya izin diberikan jam 8 sampai jam 12 atau lebih panjang lagi. Jika waktu harus berakhir jam 10, tentu saja dimulainya jam 6. Jika dimulai jam 6, tentu saja harus berangkat jam 2 sampai jam 4 dari rumah. Dg demikian sdh ada peserta yg sampai di gbk jam 3. Nah antara jam 3 sampai jam 6 peserta mau diapain? Mau disuguhi musik dangdut seperti lazimnya kampanye? Tdk mungkinkan? Satu2nya yg mungkin ya tahajud, subuh berjamaah dan sholawat.

Jadi kalau ini disebut tdk lazin adalah karena adanya ketidaklaziman izin yg diberikan. Coba andaikan izinnya lazim2 saja yakni jam 8 sampai 12. Saya berani jamin tdk akan ada tahajud dan subuh berjamaah dalam run down acara.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.