Minggu, 25 Oktober 2020

Gagalnya Isu Khilafah

Gagalnya Isu Khilafah

Jakarta, Swamedium.com — Khilafah dalam konteks gerakan politik Indonesia itu khas milik HTI. HTI itu koncone PKS? Bukan! Gak ada hubungannya. PKS justru paling kencang mengkritik HTI karena HTI golput. Sebagai partai politik, PKS anti golput. HTI itu FPI? Bukan juga! FPI itu NU banget. Shalawat, ziarah kubur, tahlil dan qunut. FPI pro demokrasi. Beda dengan HTI.

Lalu HTI itu siapa? Bukan PKS, dan bukan pula FPI. HTI itu ya HTI. Setiap pemilu golput. Anda tahu golput? Golput itu gak dukung siapa-siapa, dan gak ikut nyoblos. Bagi HTI, demokrasi itu haram. Tahu artinya haram? Dilarang! Makanya, mereka golput. Dan kita, masyarakat pemilih, gak perlu risau dengan HTI.

HTI bukannya pendukung Prabowo ya? Ngawur! Bahkan super ngawur! Ya bukanlah. Golput kok dukung. Kalau HTI mau dukung, kemungkinan dukung PBB. Coba lihat jejak digitalnya di media. HTI dukung PBB, karena Yusril jadi pengacaranya. Apakah berarti HTI dukung Jokowi? Ya gak tahu. Silahkan tanya HTI dan Yusril. Hanya mereka berdua yang tahu, selain Tuhan.

Isunya HTI dukung Prabowo? Namanya juga isu. Dibuat, dipoles dan digoreng. Ini namanya black campaign. Kampanye hitam. Bahasa agamanya “fitnah”. Tujuannya? Nyerang Prabowo. Ini gak bermoral kawan!

Ada tiga isu yang selalu dimainkan dan berulang-ulang digunakan sebagai propaganda kampanye untuk menyerang Prabowo. Pertama, isu khilafah. Kedua, isu radikal. Ketiga isu wahabi. Wahabi itu identik dengan no tahlil, no ziarah kubur dan no qunut. “Kalau calon ini menang, maka tahlil, ziarah kubur dan qunut tak ada lagi di Indonesia.” Lucu bukan? Lucu banget.

Tiga isu ini terus diopinikan ke publik untuk menakut-nakuti pemilih. Namanya juga propaganda politik.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.