Senin, 26 Oktober 2020

Saat Petahana Meremehkan Kampanye GBK Prabowo

Saat Petahana Meremehkan Kampanye GBK Prabowo

Pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno saat kampanye akbar di Jakarta, Minggu (7/4). Foto: Antara

Jakarta, Swamedium.com — Gelora Bung Karno (GBK) bergetar. Gelora Bung Karno menjadi ajang kampanye akbar terbesar dalam sejarah politik Indonesia. Mereka hadir bukan karena Prabowo-Sandi, tetapi melawan kezaliman pemerintah. Melawan carut-marut pengelolaan negeri. Itu yang harus dipahami. Niat mereka hanya satu yaitu ganti presiden. Gelora ini lebih besar dibanding antusiasme terhadap seorang Prabowo-Sandi.

Kedisiplinan, pengorbanan dan kesantunan telah dicontohkan. Arus baru perpolitikan telah hadir. Kesewenangan pemerintah kepada ulama dan masyarakat karena proyek pemerintah dan pemodal dilawan dengan kesantunan dan gerakan massa. Ini yang mulai tumbuh. Cap radikalisme dilawan dengan kelembutan. Cap anti NKRI dilawan dengan doa-doa bagi kebaikan ibu pertiwi. Apalagi yang akan dituduhkan pada mereka? Anti Pancasila? Membentuk khilafah? Tuduhan itulah yang menyakitkan. Tuduhan ini membuat gerakan semakin membesar dan berpengaruh untuk bergerak.

Perubahan cara bergerak, cermin ada arus baru yang mulai tampil. Generasi yang dahulunya menjadi penonton, mulai berperan dan berkiprah. Generasi yang dahulunya ditempa intelektualitas dan spiritualitas mulai memandang perlu mengambil bagian perbaikan bangsa. Mungkin sekarang baru gerakan massa, namun kelak generasi ini akan mengisi pucuk-pucuk kekuasaan. Mari baca hasil survei para pemilih Prabowo-Sandi, itulah generasi yang sebelumnya diam dan sekarang mulai berkiprah.

Tampilnya Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Shaibul Iman, AHY, Ulama dan Habaib yang berpadu, sebuah tanda lahirnya warna baru. Gaya politik lama sudah ditinggalkan. Paradigma politik lama sudah usang. Politik kejujuran yang akan diperjuangkan. Politik yang memberdayakan, membuat masyarakat aktif dalam bergerak. Politik berbasis akal sehat yang menghidupkan.

Namun Jokowi masih menggunakan cara berfikir lama. Menjatuhkan lawan dengan isu kasus HAM dan tragedi 98, mengapa selama berkuasa tidak diusut tuntas? Menekan lawan dengan undang-undang kejahatan teknologi informasi dan ujaran kebencian. Memenjarakan mereka yang tak sepaham dengannya. Ada yang mengatakan, era Jokowi lebih parah dari Orde Baru. Zaman telah melompat, namun cara terbelakang masih digunakan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.