Senin, 26 Oktober 2020

Masih Zamankah Kartu-Kartuan?

Masih Zamankah Kartu-Kartuan?

Jakarta, Swamedium.com — Tahun 2012 lalu, janji kartu memang menjadi andalan Pak Jokowi untuk menyukseskan jalannya ke Balaikota Jakarta. Saat itu Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar telah menghipnotis warga Ibukota untuk memilih pasangan yang identik dengan baju kotak-kotak.

Janji kartu juga jadi gacoan beliau di Pilpres 2014. Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera ditawarkan kepada masyarakat. Dan sukses. Pasangan Jokowi-JK mengalahkan Prabowo-Hatta.

Bagaimana realisasinya? Jangan ditanya. Pembaca sudah sama-sama tahu lah ya.

Dan pada Pilpres kali ini, kembali Pak Jokowi berjualan kartu dalam kampanyenya. Kartu Pra Kerja dan Kartu Sembako Murah digaungkan di mana-mana. Apakah cara ini masih sakti?

Masalahnya, Sandiaga Uno dalam debat yang lalu telah mengajukan terobosan yang lebih canggih. Yaitu Rumah Siap Kerja dan 1 KTP untuk berbagai manfaat, cukup satu kartu, tanpa ada tambahan kartu lain.

Ide Sandiaga Uno untuk Rumah Siap Kerja dan 1 KTP berbagai manfaat ini butuh kesiapan teknologi big data, data detail kependudukan Indonesia hingga data sosial ekonomi setiap penduduk dan keluarga, mengingat total jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 267 juta jiwa, menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS). Tapi memang itu lah konsep awal e-KTP. Hanya saja korupsi membuat rencana brilian itu tak kunjung terwujud. Dan juga tak terlihat kesungguhan dari Kemendagri.

Selain itu, apa yang ditawarkan Pak Jokowi kali ini ibarat bola tanggung dalam bulutangkis, yang mudah di-smash lawan. Buat apa Kartu Sembako Murah, karena Prabowo-Sandi memperjuangkan kebutuhan pokok yang terjangkau buat seluruh masyarakat tanpa perlu kartu-kartuan. Buat apa Kartu Prakerja sementara Prabowo-Sandi mengupayakan terbukanya akses lapangan kerja seluas-luasnya melalui Rumah Siap Kerja dan program padat karya lainnya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.