Minggu, 25 Oktober 2020

Pilpres 2019, Karena Hidup Orang Minang Penuh Harapan

Pilpres 2019, Karena Hidup Orang Minang Penuh Harapan

Foto: Miko Kamal, SH, LL.M., PhD, Legal Governance Specialist, Dosen Univ. Bung Hatta Padang, dan Dewan Nasional KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia).

Padang, Swamedium.com — Preferensi politik orang Minang yang lebih memilih Prabowo ketimbang Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2019 diributkan oleh beberapa orang. Surveypun dilakukan. Hasilnya, sebagian besar orang Minang terpapar hoax.

Sabtu, 6/4/2019, saya menulis artikel singkat dan ringan menanggapi hasil survey yang disampaikan pada acara Advoka Sumbar Bicara di Padang TV itu. Kata saya, ‘Jangan Hina Orang Minang’. Hoax mungkin ikut mempengaruhi pilihan orang Minang. Tapi, itu hanyalah salah satu faktor saja. Faktor yang lainnya banyak. Salah satunya, fakta amburadulnya pengelolaan pemerintahan oleh rezim Jokowi. Beberapa contoh saya tuliskan dalam artikel itu. Silahkan cari dan baca.

Saya adalah orang yang tidak menafikan bantuan demi bantuan yang digelontorkan Jokowi selama pemerintahannya. Banyak. Saya tuliskan dalam artikel yang berjudul ‘Tak Elok Manumpalak’ (7/4/2019). Yang saya tidak suka adalah manumpalak. Tumpalak politik, yaitu menyebut-nyebut sederet bantuan yang sudah diberikan Jokowi dan pemerintahannya kepada orang Minang. Padahal bantuan-bantuan itu adalah kewajiban konstitusional seorang Presiden dan pemerintahannya kepada rakyatnya sendiri.

Apa faktor lain yang mungkin memengaruhi pilihan politik orang Minang? Salah satunya adalah budaya optimis orang Minang menatap kehidupan. Optimisme itu tercermin dari pilihan profesi sebagian besar orang Minang.

Sudah menjadi pengetahuan umum, suku Minang adalah suku bangsa yang paling suka berniaga atau berdagang dalam hidup mereka. Dagangnya macam-macam. Sebutlah dagang kuliner, kumango, garmen, hasil bumi dan ragam dagangan lainnya. Menurut Elizabeth E Graves yang dikutip Wikipedia, disamping suka berdagang, orang Minang juga menonjol sebagai profesional dan intelektual.

Sifat utama seorang pedagang adalah spekulatif. Betapa tidak. Tidak ada jaminan dagangan yang hendak dijual hari ini akan terjual habis. Tidak peduli, apakah besok hari akan hujan besar atau panas berdentang, yang penting es cendol yang akan dijual harus disiapkan di malam hari. Di kampung saya Pariaman, penjual tepung selalu bertepuk tangan meskipun tepung yang terjual tak seberapa. Begitu benar riang dan optimisnya mereka menatap hidup.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.