Selasa, 27 Oktober 2020

Masa Depan Politik Islam di Indonesia

Masa Depan Politik Islam di Indonesia

Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS (Indonesia Development and Islamic Studies)

Jakarta, Swamedium.com — Berbagai survei terkini jelang Pemilu 2019 secara konsisten memprediksi raihan suara parpol Islam seperti PPP, PKS dan PBB tidak akan mampu melampaui parliamentary threshold. Prahara terkini yang menerpa PPP semakin mempertebal pesimisme terhadap masa depan Islam politik di Indonesia.

Proyeksi serupa sebenarnya terjadi pula jelang Pemilu 2014 lalu, suara parpol Islam diprediksi akan anjlok, terutama PKS yang diterpa prahara setahun sebelumnya. Namun hasil Pemilu 2014 mengejutkan publik: parpol Islam bertahan, bahkan meningkat dari Pemilu 2009.

Meski muslim Indonesia secara umum konservatif dalam akidah dan ibadah, namun secara politik mereka cenderung tidak memandang penting keterwakilan politik Islam. Bahkan non-muslim dan minoritas bisa terpilih menjadi gubernur di wilayah mayoritas muslim. Namun demikian, dengan muslim adalah mayoritas, Islam tidak pernah absen dari panggung politik nasional. Parpol Islam selalu mampu bertahan, namun selalu gagal menjadi pemenang pemilu dan meraih kekuasaan. Mengapa Islam politik gagal meraih dukungan publik secara luas?

Islam, Indonesia dan Demokrasi
Islam di Indonesia masuk dengan begitu banyak cara dimana komunitas lokal menjadi muslim dengan tetap mempertahankan adat dan budayanya, menciptakan kultur Islam lokal yang begitu beragam. Ketiadaan pemimpin muslim yang otoritatif, membuat masyarakat muslim Indonesia cenderung terfragmentasi dengan isu, agenda dan patron masing-masing. Karakter muslim Indonesia yang moderat dan toleran, dan hanya puritan untuk ibadah khususnya rukun Islam yang lima, membuat agenda ideologis partai politik, seperti implementasi hukum syariah, tidak pernah mendapat dukungan publik yang memadai.

Meski demikian, demokrasi di Indonesia tidak pernah sepenuhnya menjadi demokrasi sekuler. Serupa dengan pengalaman India, Swiss dan Austria, demokrasi di Indonesia mempromosikan nilai-nilai relijius dengan mensintesakan antara kebebasan individu dan kepentingan masyarakat muslim dalam sistem hukum yang plural. Bahkan di tingkat lokal, ratusan “Perda Syariah” telah diterbitkan, yang melarang minuman keras, judi dan prostitusi, mengatur pengelolaan zakat, hingga menetapkan seragam pakaian muslimah.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.