Minggu, 25 Oktober 2020

Waspadai Desain di Balik Isu Kecurangan

Waspadai Desain di Balik Isu Kecurangan

Ilustrasi (watyutink.com)

Jakarta, Swamedium.com — Menjelang hari H yang tinggal belasan jam ke depan, tensi di dua kubu pendukung Paslon 01 maupun 02, semakin meninggi. Ketegangan kali ini lebih diwarnai oleh manuver saling tuding seputar adanya temuan sejumlah kecurangan. Kubu 01 menuding kubu 02 yang masif melakukan kecurangan. Sementara kubu 02 menangkis tuduhan dengan menuduh balik kubu 01 lah yang berpotensi melakukan kecurangan.

Alasannya karena sebagai kubu petahana seluruh akses terbuka untuk kubu 01 melakukan rekayasa kecurangan lewat operasi intelijen yang dikuasainya.
Kasus yang terpanas ketika pada salah satu ruko di Kuala Lumpur, Malaysia, ditemukan puluhan kantong plastik berisikan kartu suara yang sudah dicoblos. Pencoblosan liar ala siluman ini seakan menjadi bagian operasi bawah tanah yang bertujuan mendongkrak perolehan suara untuk paslon dan caleg tertentu. Pasalnya coblosan terarah pada target Paslon 01 dan Caleg partai Nasdem dapil Jakarta yang kebetulan merupakan putra Dubes RI di negeri Jiran ini. Kontan kubu 02 lewat sejumlah teori konspirasi menjabarkan kemungkinan besar kecurangan dilakukan oleh pihak petahana yang menguasai seluruh jalur resmi institusi negara untuk melakukan apa saja, termasuk melakukan kecurangan. Sementara kubu 01 malah menuduh kubu 02 sebagai perekayasa kecurangan ini. Alasannya singkat saja, terlalu mudah dibaca sebagai murni rekayasa!

Masih banyak lagi peristiwa saling tuding melakukan kecurangan di berbagai negara di mana warga Indonesia sudah memulai pencoblosan lebih awal. Namun dalam hal ini, simpang siurnya versi pemberitaan tentang apa yang sebenarnya terjadi, secara pribadi saya malah menjadi tertarik untuk mencoba membaca apa sebenarnya yang terjadi di balik ini semua. Satu hal yang pasti, semua kericuhan dan kegaduhan saling tuduh ini merupakan cerminan bahwa masing-masing kubu sudah saling meyakini bahwa kemungkinan menang sudah begitu tinggi. Tidak sedikit pun ruang tersisa untuk mengantisipasi kemungkinan menerima kekalahan. Sehingga berbagai alibi diciptakan agar siapa pun yang akan ke luar sebagai pemenang, kuat alasannya untuk digugat.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.