Monday, 14 October 2019

Kami Menolak Kecurangan, Bukan Makar pada Pemerintah yang Sah

Kami Menolak Kecurangan, Bukan Makar pada Pemerintah yang Sah

Jakarta, Swamedium.com — Masih ingat kasus “CONTEK MASSAL” yang permah terjadi di salah satu SD di Surabaya pada UNAS/UN tahun 2012 lalu?! Dimana saat itu ada seorang siswa SD, laki-laki, yang mengadukan pada ibunya bahwa di sekolahnya ketika berlangsung UN, teman-temannya semua mendapat contekan jawaban dari guru mereka. Semua melakukannya, hanya dia yang tidak ikut berlaku seperti itu. Memang anak ini termasuk pintar, jadi mungkin dia cukup percaya diri bakal bisa menjawab soal-soal UN tanpa bantuan contekan jawaban dari guru.

Sementara teman-temannya mengandalkan jawaban yang diberikan guru. Demikian juga para guru, mereka tidak cukup yakin anak-anak didiknya akan mampu menyelesaikan UN dan mendapatkan nilai bagus, kalau tidak dipasok jawaban. Maka contek massal adalah jalan pintas untuk membuat semua siswa bisa melalui UN dengan mudah dan mendapat nilai baik. Bahkan menurut si anak yang jujur ini, “skenario” dan bagaimana teknisnya contekan akan diberikan, sudah dibahas sebelum UN dilaksanakan. Artinya secara resmi diinstruksikan oleh guru, para siswa diberi arahan untuk begini dan begitu. Hanya saja, 1 siswa ini merasa tidak nyaman dengan cara seperti itu dan dia memilih tidak ikut cara-cara tersebut.

Mendapat cerita seperti tu dari anaknya, Ibu si anak mempertanyakan kepada pihak sekolah, apakah memang benar begitu. Namun, reaksi pihak sekolah ternyata negatif. Bahkan kemudian reaksi ini meluas kepada para wali murid siswa lainnya. Ibu dan anak ini DIMUSUHI berjamaah. Bahkan karena mereka tinggal di lingkungan yang sama (sekolahnya SD Negeri), keluarga ini kemudian mendapatkan perlakuan tidak simpatik, sampai-sampai keluarga jujur tadi terpaksa mengungsi ke rumah kerabat mereka.

Kasus contek massal itupun akhirnya meluas pemberitaannya. Sampai Walikota Surabaya, Ibu Risma, harus turun tangan mencoba mendamaikan pertikaian antar warganya. Tidak hanya itu, Bapak Muhammad Nuh, Mendiknas saat itu, yang kebetulan orang Surabaya, sampai ikut datang ke sekolah tersebut.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.