Friday, 13 December 2019

Mencabut Pohon Kebencian di Pekarangan Rumah

Mencabut Pohon Kebencian di Pekarangan Rumah

Ruslan Ismail Mage

Pekanbaru, Swamedium.com — Pagi itu ketika hendak melanjutkan pengembaraan literaturku ke pulau Sumatera, aku sempat duduk termenung sebelum melangkah meninggalkan rumah. Tiba-tiba aku membayangkan diri menyeberangi pulau dengan berjalan di atas garis khatulistiwa laksana berjalan di atas sehelai rambut menyeberangi “sidratul muntaha”. Panas membara mendidih membumihanguskan.

Papa belum jalan, kata bocaku memeluk dari belakang. Aku pun tersadar dari lamunan, sambil istigfar menyebut kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya : “ya Allah, hanya kepada-Mu tempat memohon dan berlindung. Lindungilah bangsaku dari segala bahaya yang mengancam persatuan dan kedamaian anak-anak negeri”.

Berdoa memohon keselamatan bangsa menjadi wajib rasanya bagi anak bangsa, karena di tahun politik yang belum berakhir ini, nampak dan terasa di mana-mana rakyat yang sudah terpolarisasi menjadi dua kubu akibat perbedaan pilihan politik saling berlomba menanam pohon-pohon kebencian di pekarangan rumah masing-masing.

Akibatnya pot-pot bunga warna-warni yang selama ini sudah bermekaran memancarkan harum semerbaknya bunga silaturahmi tanpa batas tanpa syarat kini pecah satu-satu menyisahkan puing-puing jiwa. Kedamaian, kebersamaan, kehangatan, dan solidaritas yang selama ini menjadi warna kehidupan sosial, berubah wajah menjadi hujatan, makian, dan kedengkian yang terus bertumbuh hanya karena perbedaan pilihan politik.

Pasca pilpres nampaknya terjadi “karnaval kebencian” akibat pilihan politik yang berseberangan. Tidak jarang kita dengar seorang sahabat karib tiba-tiba saling memaki, menghujat dan memutus silaturahmi hanya karena perbedaan pandangan soal pilihan politik.

Tengoklah halaman media sosial yang sejatinya diciptakan untuk menyambung silaturahmi yang terputus, mendekatkan yang jauh dalam menabur cinta dan kasih sayang ke bumi, kini justru berubah menjadi gelanggang saling membantai. Orang-orang yang berseberangan pilihan politik tiada hentinya saling memaki, saling menyerang, saling menantang dengan berbagai narasi yang merendahkan penuh kebencian.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.