Kamis, 24 September 2020

People Power dalam Tinjauan Syariat

People Power dalam Tinjauan Syariat

Ilustrasi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — People power itu, alat sekaligus taktik-strategis. Dalam studi Islam, alat, hukumnya netral (mubah, halal) menurut kesepakatan Ulama Madzhab. Literatur politik melaporkan, fungsi dasar people power ada 3: kontrol, kekuatan ekuilibrium, dan diskualifikasi alias pemakzulan (impeachment).

Berdasarkan kajian fungsi, dapat disimpulkan status hukum people power mengikuti hukum amar ma’ruf nahi munkar. Dalam kondisi normal, hukumnya fardhu kifayah. Saat darurat, hukumnya bisa naik wajib ‘ain bela negara. People power adalah ekspresi jihad politik.

Dari kajian hukum, status hukum people power ditimbang berdasarkan (a) maksud dan tujuan (b) cara dan sifatnya (c) oknum dan tingkat tiraninya

Selama ketiga poin tersebut dijalankan secara tertib dan damai, people power sah-sah saja, konstitusional maupun menurut hukum formal syariah. Karena hukum dasarnya bertumpu pada kaedah al-amru bil-ma’ruf wa al-nahyu ‘anil-munkar.

Ketika pintu nasehat, peringatan, bukti-bukti aksiomatik; tidak digubris dan diindahkan, maka tirani harus dihentikan dengan hukum tandingan. Makar dengan makar “wayakmuruna wayamjurullah wallahu khayrul-makirin” (QS Al-Anfal: 30).

Allah Jalla Jalaluh berfirman:
اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا ۙ
“Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat,”

وَّاَكِيْدُ كَيْدًا ۖ
“dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu.” (QS. At-Tariq 86: 15-16)

Ketika sihir milenial tidak bisa diterapi dengan sihir konvensional, maka harus diimbangi dengan jenis sihir serupa setingkat di atasnya. “Ilaju al-sihir bi al-sihir jawas“, hilangkan sihir dengan sihir hukumnya boleh.

Sendi-sendi Islam sendiri berhirarki people power, karena strukturnya bertumpu pada kekuatan: jamaah, imamah dan imarah. Jamaah, ekspansionistis dari koalisi besar di bawah payung ummat dengan kendali imamah. Tatanannya disebut imarah. Bukankah inti people power adalah himpunan orang, disuatu waktu dan tempat, yang disatukan oleh cita-cita yang sama, senasib-sepenanggungan, seia-sekata; menuntut tegaknya kebaikan, kebenaran dan keadilan.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.