Friday, 24 May 2019

Pasca Jokowi

Pasca Jokowi

Foto: Widhyanto Muttaqien di depan kedai kopi miliknya. (Facebook)

Bogor, Swamedium.com — SMI mengumumkan pelemahan ekonomi, statistik menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan, pertanian (dalam hal ini perkebunan sawit), dan perdagangan, serya pertambamgan, sebagai sektor yang memperkuat pertumbuhan 5%.

semua sektor di atas tidak menutup kemungkinan merupakan perusahaan patungan, perusahaan MNC, artinya geografi ekonomi politik Indonesia mestinya tervisualkan, di daerah masyarakat masih banyak tak mengerti hak mereka atas lahan kehidupan, perusahaan selalu menang, bahkan sampai saat ini intimidasi dalam perebutan lahan antara rakyat dan pengusaha juga terjadi, aparat berada di pihak pengusaha.

bicara kedaulatan pangan masih jauh dari kenyataan, masalah pangan merupakan masalah utama dalam perebutan ekonomi, hancurnya negeri-negeri di Mesopotamia, Aztec disebabkan masalah pangan. Perang di Irak, Syiria, Suriah, Libya menghancurkan bahan pangan. Dulu Timur Lenk juga menghabisi lahan pertanian di setiap gerak laju penjajahannya. Penjajahan pangan sekarang seperti apa?

Sektor lain yang menggerakkan pertumbuhan PDB adalah konsumsi, menurut analis ekonomi konsumsi terbesar adalah belanja negara lewat infrastruktur yang dibiayai utang.

Krisis dan jebakan di angka 5 pertumbuhan bukan tidak mungkin terus menjadi hantu, yang mesti dilihat apakah polarisasi dalam politik juga merupakan polarisasi dlaam pandangan capres kemarin. dalam debat kemarin nampaknya tidak, namun jargon kedaulatan ekonomi ada di Paslon 02 sedangkan kata pertumbuhan dan investasi selalu digaungkan oleh Paslon 01. Masalah permukiman dan perumahan untuk rakyat disentil sedikit oleh 02. Tapi apakah persoalan ketimpangan, ketidaksetaraan, ketidakadilan di ranah hukum, ekonomi, dan politik masih menjadi bagian dalam motif konstituen memilih, nampaknya tidak.

Dalam Pilpres 2019 pilihan pertama diposisikan sebagai nasionalis untuk Paslon 01 walaupun kenytaannya tidak, agenda ekonomi Neo Lib terus dijalankan dengan resep Bank Dunia tentunya. Paslon 02 dilabelkan oleh lawannya sebagai kelompok kanan, membawa sentimen Islam, bukan dilihat dari visi Indonesia Menangnya (ingat bukan Islam Menang). Apakah Paslon 02 sanggup mengubah tatanan yang buruk, seperti diakui oleh Prabowo dalam debat terakhir bahwa ini ada sebelum masa Jokowi, dan tidak dikoreksi oleh Jokowi. Pernyataan nasionalis ini diplintir menjadi anti investor, hal yang berkwbokan dengan ruang hidup dan habituasi capres dan cawapres 02.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)