Friday, 23 August 2019

Politik Pasca Jokowi

Politik Pasca Jokowi

Foto: Widhyanto Muttaqien di depan kedai kopi miliknya. (Facebook)

Bogor, Swamedium.com — menyamakan aksi demo dengan arab spring lebih mirip membangun dan menggiring opini publik untuk menghancurkan suara yang lain, dengan sekali tepuk juga ingin mendemonisasi organisasi islam, baik partai berbasis islam maupun organisasi massa islam. dan ini lebih menakutkan dibanding kemenangan jokowi untuk kedua kalinya, sebuah rencana jahat menghadap-hadapkan isu rasial dalam kebhinekaan Indonesia.

arab spring merupakan proyek perebutan minyak, seperti banyak ditulis oleh pengamat asing terhadap kinerja pemerintahannya sendiri yang tergabung dalam sekutu. perang dibutuhkan untuk berebut energi, dengan perang mereka mendapatkan bonus [a] perbaikan infrastruktur jalan jembatan perumahan [b] perbaikan dalam pengadaan lahan pertanian dan ketahanan pangan, [c] penguatan ideologi neo liberal lewat pendidikan yang menjadikan negara-negara arab sebagai daerah paling pinggir dalam konstelasi dunia, [d] membuat demagog di negara taklukan.

indonesia tidak butuh arab spring untuk ditaklukan, sejarah penjajahan di indonesia dalam long duree adalah kerjasama raja lokal nusantara dengan kompeni dagang belanda, inggris, amerika, spanyol, portugis. sebagai akibat politik etis sebagian pribumi malah tercerahkan untuk melawan, termasuk melawan raja lokal para pamong projo yang diciptakan belanda. bupati dan pamong projo ini bahkan lebih degil dan korup dibandingkan belanda.

dalam sejarahnya, politisasi agama mejadi bagian politik di nusantara, bahkan jatuh bangunnya kerajaan budha, hindu, kemudian islam dan kristen juga karena politisasi agama. bahkan kerja dakwah pribumisasi islam dn gereja juga bagian dari politik agama. skenario melabelkan orang yang bersebrangan dengan jokowi akan men-suriahkan Indonesia adalah omong kosong pihak-pihak yang tidak siap dengan perubahan, bagaimana muslim modern yang komit terhadap bangunan kebangsaaan yang berbeda budaya dengan sistem kesukuan di wilayah arab [yang memiliki kabilah, seperti ruang budaya dalam masyaraat adat di indonesia] dianggap tidak kompatibel dengan demokrasi.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)