Sabtu, 28 November 2020

Cerita Warga Soal Aksi Beringas Aparat di Kampung Bali

Cerita Warga Soal Aksi Beringas Aparat di Kampung Bali

Kawasan Masjid Al Huda, Kampung Bali yang viral di media sosial.

Jakarta, Swamedium.com — Beberapa warga di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat yang ditemui Tempo pada Jumat 24 Mei 2019, menceritakan kembali bagaimana aparat yang diduga anggota Brigade Mobil (Brimob) Polri melakukan kekerasan brutal pada Kamis pagi, 23 Mei 2019 buntut kerusuhan 22 Mei.

Seorang sumber yang juga warga di sana menceritakan pagi itu sekitar pukul 06.30 WIB, dia memang ada di area sekitar Jalan Kampung Bali XVII. Kebetulan, di tengah jalan kecil tersebut, ada sebuah pangkalan ojek online. Sayang, warga ini menolak menyebutkan namanya karena khawatir akan keselamatannya.

Menurut warga ini, saat dia datang di Kampung Bali, seorang rekannya yang juga sopir ojek online sedang tidur di pangkalan mereka. Tidak berselang lama, suara tembakan terdengar dari arah Jalan Kampung Bali XXXIII atau tak jauh di ujung markas mereka ini.

“Tahu-tahunya di sana sudah rame,” kata dia kepada Tempo, Jumat, 24 Mei 2019.

Dia lalu melihat sekelompok orang berseragam hitam, berhelm, dan membawa pentungan memasuki Jalan Kampung Bali XVII dan mulai menendang pintu-pintu warung yang ada di sana. Mereka seperti mencari seseorang. Karena takut, pria ini sontak kabur, lari ke arah sebaliknya menuju Jalan Kampung Bali XXXII. “Saya balik badan, karena di sana banyak anak-anak saya lihat,” kata dia.

Dia meninggalkan rekannya yang masih tidur di basecamp ojek online. Dari ujung Jalan XXII, dia melihat aparat anggota Brimob sudah sampai di pangkalan dan langsung membawa rekannya. “Pas saya lihat, mukanya sudah hancur,” kata dia.

Seorang sopir ojek lain yang ditemui Tempo hari itu, membenarkan keterangan ini. Dia mengaku sempat makan sahur bersama sopir ojek online yang ditangkap itu. “Kami makan nasi Padang di basecamp,” katanya.

“Terus saya pulang ke rumah, dekat sini untuk ganti baju. Dia sama saya sahurnya,” kata dia.

Saat mulai terdengar tembakan gas air mata dan aparat mulai berdatangan ke perkampungan itu, dia panik. Posisinya ketika itu ada di halaman rumah. Untuk menyelamatkan diri, dia menarik dan memeluk keponakannya yang masih anak-anak.

“Saya bilang, ‘Pak saya warga Pak, warga,” kata dia menirukan dialog kepada aparat.

Dia juga membenarkan keterangan temannya yang melihat rekan mereka dibawa Brimob dengan kondisi muka yang berdarah-darah. Dia sempat berteriak kepada aparat agar melepaskan temannya.

“Terus polisi itu balik badan dan nyamperin. Mereka berdebat dengan orang tua saya. Orang tua saya bilang, ‘Pak itu warga Pak,” kata dia. Namun, polisi tetap memutuskan membawa temannya sesama warga Kemanggisan itu.
Jalan Kampung Bali XXXIII juga merupakan lokasi Masjid Al Huda. Di halaman masjid, terjadi kekerasan lain yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Sebuah video amatir menunjukkan bagaimana seorang pria dengan perawakan kurus, dipukul berkali-kali dengan tongkat dan popor senjata, lalu ditendang dan diseret oleh beberapa pria berseragam hitam Brimob. Video itu langsung viral di media sosial.

Para penganiaya yang berhelm itu menenteng tameng hitam dan pentungan. Jumlahnya tampak lebih dari 10 dan posisinya semula berpencar di beberapa titik. Namun begitu ada pria yang ditangkap, semuanya mendekat lalu memukuli dengan membabi buta.

Imam Masjid Al Huda, Tajudin mengatakan anak yang dianiaya itu bukan bagian dari perusuh maupun pengunjukrasa di Bawaslu RI. Tajudin berujar, anak tersebut bekerja sebagai juru parkir di lahan kosong sekitar masjid. Jasa parkir itu milik Smart Services Parking.

“Dia bukan ngumpet. Itu orang parkir,” kata Tajudin saat ditemui wartawan di masjid tersebut pada Jumat, 24 Mei 2019.

Tajudin mengatakan, pengeroyokan tersebut berlangsung pada Kamis, 23 Mei 2019 sekitar pukul 06.30. Namun, dia berujar sedang tidak di lokasi saat kejadian berlangsung. Dia mengaku sedang di rumah untuk sembunyi. Meski begitu, Tajudin membenarkan dia sering melihat anak tersebut di kawasan dekat masjid.

Sayangnya Tajudin tidak mengenal nama anak tersebut. Dari informasi yang diterimanya, polisi juga membawa dua orang lain saat kejadian di masjid itu. Salah satunya disebut pegawai perusahaan parkir.

“Yang dibawa polisi tiga orang, supervisor satu, dan anak-anak itu dua orang,” kata dia.

Pantauan di lokasi pada Jumat siang 24 Mei 2019, sekitar empat mobil terparkir di lokasi masjid. Saat Tempo ke sana, beberapa anggota TNI terlihat beristirahat di halaman depan masjid.

Dua anggota Brimob berjaga di area belakang masjid Jalan Kampung Bali XVII. Dua anggota Brimob lain berjaga di sisi kanan masjid Jalan Kampung Bali XXXII.

Seorang pegawai Smart Services Parking yang ditemui Tempo mengatakan ada empat orang yang ditangkap di area parkir masjid tersebut. Bukan tiga orang seperti yang dijelaskan Tajudin. Salah satu pria yang ditangkap merupakan supervisor perusahaan jasa parkir itu.

Soal pria yang dipukuli, lalu diseret seperti dalam video yang viral pasca kerusuhan 22 Mei, sumber tersebut memastikan insiden itu benar terjadi. Tapi korbannya bukan pegawai perusahaan parkir. “Dia hanya sering bantu-bantu dan main di sini,” kata pria yang tidak ingin disebutkan namanya itu.

Markas Besar Kepolisian masih memeriksa viral video dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan anggota Brigade Mobil dalam aksi 22 Mei 2019. Analisis untuk membuktikan kebenaran video dilakukan oleh Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal Polri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, di kantornya, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019 malam akhirnya membenarkan bahwa insiden pemukulan itu dilakukan polisi.

Namun dia berdalih polisi ketika itu sedang memburu perusuh yang membawa batu-batu dan menyediakan jerigen air untuk membasuh mata kawan-kawannya yang terkena gas air mata. Korban yang dipukuli Brimob, menurut Dedi, bernama Andri Bibir. Dia masih hidup dan kini ditahan Polda Metro Jaya.

Sumber: Tempo

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.