Friday, 23 August 2019

Dampingi Orang Tua Farouq, PAHAM Ungkap 9 Orang Hilang Pasca 22 Mei

Dampingi Orang Tua Farouq, PAHAM Ungkap 9 Orang Hilang Pasca 22 Mei

Farouq As Showan.

Photo Credit To foto faruq as showan

Jakarta,Swamedium.com — Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM) mendampingi orang tua korban penangkapan pasca Aksi 21-22 Mei 2019 atas nama Faruq As Showan mendatangi Sub Resmob Polda Metro Jaya, Sabtu (25/5) kemarin. Kunjungan itu bermaksud mengajukan permohonan penangguhan penahanan atas korban dan sekaligus ingin bertemu langsung dengan korban.

Namun sangat disayangkan, Faruq belum bisa ditemui karena Kepala Unit Sub Resmob yang berwenang sedang tidak berada ditempat sehingga orang tua korban diminta untuk datang kembali pada hari Senin (27/5).

Sambil memperlihatkan rekaman tertulis (chatting) dengan petugas dari KPAI, ibunda Faruq menjelaskan bahwa korban sudah dipindahkan untuk direhab dan akan di kembalikan kepada  orang tuanya setelah proses asesmen dilakukan.

“Tetapi informasi mengenai keberadaan korban sampai saat ini masih belum diberitahukan oleh pihak KPAI,” ungkap rilis dari PAHAM.

Selain melakukan pendampingan, PAHAM juga melalukan pengecekan dan pencocokan kepada petugas terhadap beberapa nama yang diduga hilang sejak 22 Mei 2019.

Setelah dilakukan pencocokan, alhasil ditemukan 9 nama yang masih dalam proses penahanan di Polda Metro Jaya. 9 korban penahanan ini merupakan warga Lampung. Berikut daftar nama 9 korban tersebut:

Armin Maulani, Sandi Maulana, Ahmad Rifai, Joni Aprianto, Alam Fian, Jabbar Khomeni, Khorizal Afrizal, Nurdianto, dan Suprianro.

“Penahanan yang dilakukan terhadap Farouq As Showan dan 9 korban lainnya telah menunjukkan sikap arogansi aparat kepolisian yang telah mengabaikan prosedur hukum yang ada,” kata PAHAM.

Hal ini terlihat ketika tertundanya upaya administratif pengajuan penangguhan penahanan hingga beberapa hari kedepan hanya karena petugas yang berwenang tidak berada ditempat.

“Kita bisa sedikit memaklumi jika yang ditahan itu memang adalah orang orang yang bersalah. Namun, perlu digaris bawahi, ketika pihak yang tertahan merupakan rakyat yang tidak bersalah (kriminalisasi), berarti Negara ini telah merenggut HAM warganya ketika menunda nunda haknya untuk bebas,” demikian isi rilis PAHAM. (Dip/ls)

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)