Tuesday, 19 November 2019

Harun dan Rama, Tragedi Bocah-Bocah Pencari Keadilan

Harun dan Rama, Tragedi Bocah-Bocah Pencari Keadilan

Foto: Nael/swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Harun dan Rama adalah bocah-bocah dari kalangan rakyat biasa yang mengikuti jalannya Pilpres 2019. Seusia mereka dapat dikatakan tidak memahami apa itu sistem politik dan demokrasi. Yang mereka tahu adalah pilpres tidak boleh curang.

Suatu pemahaman alamiah untuk seorang anak belia, bahwa permainan apapun tidak boleh curang. “Yang fair dong”, atau “jangan main curang ya” adalah kata-kata yang sering terlontar ketika bocah-bocah bermain sepakbola. Merupakan nilai-nilai kolektif yang sudah tertanam sejak menjadi bocah.

Inilah yang menjadi pendorong bagi Harun dan Rama, yang datang ke lokasi demonstrasi menentang hasil pilpres di lokasi yang berbeda. Mengutip media Kumparan yang mewawancarai kawan korban Harun, bahwa mereka datang untuk mencari keadilan. Mereka percaya bahwa pilpres telah berjalan penuh kecurangan.

Peristiwa ini seharusnya menampar wajah negara bolak balik. Manakala sistem demokrasi dijalankan dengan keangkuhan, arogan dan licik, itu sama saja saja dengan menghancurkan nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam dalam diri anak-anak penerus bangsa.

Maka ketika pemerintah mengajak orang agar percaya pada KPU dan MK, apakah rakyat begitu saja percaya? Sedangkan bocah-bocah saja sudah bisa merasakan ketidakadilan.

Bocah bernama Harun dan Rama, adalah potret bocah-bocah yang tumbuh dalam lingkungan di mana keadaan ekonomi dan sosial telah mengajarkan mereka arti demokrasi secara praktek. Mereka tidak baca teori-teori demokrasi, tetapi setiap hari mereka menyaksikan mobil-mobil mewah yang melewati jalan-jalan di sekitar rumah mereka di Petamburan dan Duri Kepa, sementara kehidupan orang tua mereka pas-pasan.

Setiap hari mereka baca dan tonton berita kasus korupsi, yang seharusnya uang korupsi itu dapat digunakan untuk meringankan beban hidup mereka. Ya, mereka lahir dan dibesarkan di lingkungan yang memiliki alam bawah sadar kolektif “mengapa hidup ini tidak adil?”.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.