Minggu, 28 Februari 2021

Sembilan Adab Merayakan Idul Fitri

Sembilan Adab Merayakan Idul Fitri

Ilustrasi Sholat Idul Fitri. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Perayaan Idul Fitri 1440 Hijriah, tinggal menghitung hari. Tentunya, sejumlah persiapan akan kita lakukan, untuk menyambut hari besar umat Islam se dunia ini. Sejumlah adab yang ada, juga harus kita jalankan.

Banner Iklan Swamedium

Apa saja adab yang patut kita laksanakan dalam merayakan Idul Fitri tersebut? Berikut ini ulasannya.

Pakaian Terbagus

Saat shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian terbagus yang dimiliki (bukan terbaru). Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, Umar menyodorkan pakaian tebal dari sutera kepada Rasulullah saw sambil berkata: ‘Ya Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menerima utusan.’ Nabi menjawab: ‘Pakaian ini bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akhirat (yakni orang kafir)’. (HR. Bukhary dan Muslim).

Makan Dulu

Sebelum berangkat shalat Idul Fitri disunnahkan makan terlebih dulu. Jika ada makanlah beberapa butir kurma. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Nabi saw sebelum berangkat menuju mushalla makan beberapa biji kurma dalam jumlah ganjil. (HR. Bukhary dan Muslim).

Mengumandangkan Takbir

Pada Idul Fitri, takbir dikumandangkan sejak keluar rumah menuju ke tempat shalat, hingga sampai di tempat shalat sampai sebelum shalat dimulai. Diriwayatkan dari Azzuhri, manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat Id sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat Id) dan terus bertakbir sampai imam datang. Saat imam datang, mereka diam dan kala imam bertakbir mereka pun ikut bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Jalan Berbeda

Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan sepulangnya. Diriwayatkan dari Jaabir ra, Nabi saw bila shalat Id ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain) (HR. Bukhary).

Kehadiran Wanita

Shalat Id disunnahkan bagi orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, termasuk wanita yang sedang haidh, serta kanak-kanak. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tapi hadir mendengarkan khutbah Id.

Diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah ra, Rasulullah saw memerintahkan keluar pada Idul Fitri dan Idul Adha semua gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Wanita yang haidh menjauh dari mushala (tempat shalat Id), dan meyaksikan kebaikan serta mendengarkan dakwah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata, ‘Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab?’ Beliau menjawab, ‘Hendaknya saudaranya meminjami dia jilbab.’’ (HR. Jama’ah).

Tempat Shalat Id

Shalat Id lebih afdhal (utama) di mushala, yaitu suatu padang atau lapangan terbuka. Kecuali ada uzur hujan, maka shalat diadakan di masjid. Rasulullah saw selalu mengadakan shalat Id di lapangan, kecuali sesekali mengadakan di masjid karena hujan.

Dari Abu Said, Nabi saw pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ke mushala (padang untuk shalat). Pertama beliau shalat, kemudian berdiri menghadap kepada jemaah manusia, lalu memberi nasihat dan wasiat (khutbah) (H.R. Bukhary dan Muslim).

Cara Shalat Id

Shalat Id dua raka’at, tanpa adzan dan iqamah, tanpa shalat sunnah qabliyah maupun ba’diyah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw shalat Idul Fitri dua raka’at, tidak shalat sunah sebelum dan sesudahnya. (HR. Bukhary dan Muslim).

Pada raka’at pertama, setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka’at yang kedua sebelum membaca Al Fatihah ditambah takbir lima kali. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari neneknya, sesungguhnya Nabi saw bertakbir pada shalat Id duabelas kali takbir. Dalam raka’at pertama tujuh kali, dan pada raka’at kedua lima kali takbir, dan tidak shalat sunnah sebelum maupun sesudahnya. (HR. Amad dan Ibnu Majah).

Setelah membaca Fatihah pada raka’at pertama disunnahkan membaca surat Al A’la (surat ke-87) atau surat ke-54. Setelah membaca Fatihah pada raka’at kedua disunnahkan membaca surat Al Ghaasyiyah (surat ke-88) atau surat Al Qaaf (surat ke-50). Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca Nabi saw ketika shalat Id. Aku menjawab: Beliau membaca surat Iqtarabatissa’ah dan Qaaf walqur’anul majid. (HR. Muslim).

Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk di antara dua khutbah sebagaimana dalam khutbah Jumat.

Waktu Shalat

Shalat Id diadakan setelah matahari naik, tapi sebelum masuk waktu dhuha. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra, Abdullah bin Busri, seorang sahabat Nabi, menuju shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Mengingkari keterlambatan imam, beliau berkata, ‘Sesungguhnya kami dulu (pada zaman Nabi saw) pada jam-jam seperti ini (dhuha) sudah selesai mengerjakan shalat Id. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Bila hari raya jatuh pada hari Jumat, shalat Jumat menjadi sunnah. Tapi sebaiknya tetap mengadakan shalat Jumat. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra, Nabi saw shalat Id, kemudian beliau memberikan ruhkshah (dispensasi) dalam menunaikan shalat Jumat. Beliau berkata: ‘Siapa yang mau shalat Jumat, kerjakanlah.’ (HR. Imam lima kecuali Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Nabi saw berkata, siapa yang suka shalat Jumat, maka shalatnya diberi pahala, sedang kami akan melaksanakan shalat Jumat. (HR. Abu Daud).

Zakat Fitrah dan Sedekah

Batas akhir penunaian zakat fitrah adalah sebelum shalat Id. Jika lewat waktu itu, kata Nabi, nilai menjadi sedekah biasa. Diriwayatkan, pada Idul Fitri kaum wanita memenuhi anjuran Rasulullah saw dengan menyedekahkan perhiasannya bagi kaum dhuafa.

*Penulis: Muhammad Idris Yusuf (Dai Laznas Dewan Dakwah)

Sumber: Suarapalu.com

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita