Minggu, 28 Februari 2021

Kisah di Balik “Tank Man” Saat Pembantaian Tiananmen 30 Tahun Silam

Kisah di Balik “Tank Man” Saat Pembantaian Tiananmen 30 Tahun Silam

Foto bersejarah "Tank Man" ketika momen pembantaian Tiananmen oleh Militer Cina.

Cina, Swamedium.com — Hari 30 tahun lalu, sejak 3 hingga 5 Juni 1989, dunia dikejutkan dengan tragedi pembantaian di Lapangan Tiananmen, Beijing, China. Militer China yang memilih membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa dengan jalan kekerasan membuat darah tertumpah.

Banner Iklan Swamedium

Salah satu hal yang terlintas saat membicarakan tragedi pembantaian Tiananmen adalah foto bertajuk “Tank Man”.

Foto yang diambil pada 1989 di sekitar Lapangan Tiananmen itu menangkap potret seorang lelaki yang berdiri menghadap barisan tank yang akan melintas di jalanan.

Tak ada senjata yang ia bawa sebagai alat perlindungan diri. Lelaki itu hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana panjang, dan membawa tas di tangan. Dia hanya berdiri seakan bersiap mati menghadapi tank yang dikirim pemerintah untuk melawan rakyatnya sendiri.

Foto tersebut diambil oleh seorang jurnalis foto Associated Press (AP) bernama Jeff Widener saat militer berusaha membubarkan aksi demonstrasi di China.

Demonstrasi yang sebagian besar dilakukan mahasiswa itu menuntut sistem demokrasi lebih terbuka dan kebebasan berpendapat.

Dalam rangkaian kejadian yang terjadi, dikabarkan sekitar 300 hingga 1.000 orang tewas yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, masyarakat sipil, juga tentara. Aksi itu juga menyebabkan ratusan mahasiswa dipenjara karena dianggap menimbulkan kekacauan.

Pemerintah China yang dikenal otoriter hingga saat ini berusaha untuk menutup rapat segala bentuk informasi tentang tragedi pembantaian Tiananmen di 1989 dari rakyatnya.

Sistem internet China yang dikuasai penuh oleh pemerintah tidak membuka celah sekecil apa pun. sehingga informasi pembantaian ini dapat diakses warganya.

Sejumlah media juga sengaja diminta tidak menyebut satu pun terkait kejadian Tiananmen. Bahkan media diminta mematikan kolom komentarnya, saat banyak orang memperingati 30 tahun peristiwa ini.

Generasi sebelumnya yang mengetahui kejadian ini tidak berani buka suara, karena gerak-geriknya diawasi kepolisian. Penjara bahkan ancaman nyawa bisa menghampiri mereka kapan pun. Akibatnya, generasi muda yang lahir setelah kejadian, tidak ada yang mengetahui peristiwa pembantaian berdarah ini.

Bagaimana sesungguhnya cerita di balik foto tersebut?

Dilansir dari CNN, Jeff Widener mencoba memotret deretan tank yang membelah jalanan di sekitar Lapangan Tiananmen pada 5 Juni 1898.

Saat itu, tank dan militer dikirim untuk mensterilkan Lapangan Tiananmen yang dikuasai demonstran selama tujuh pekan. Awalnya, para demonstran turun ke jalan untuk meminta transparansi pemerintah atas meninggalnya Sekjen Partai Komunis yang dianggap pro reformasi, Hu Yaobang.

Kesal

Setelah tank dan tentara dikirim ke Lapangan Tiananmen, Widener sudah siap siaga. Ia sudah memilih posisi dari atas balkon lantai enam Beijing Hotel untuk mendapatkan komposisi sempurna foto yang menampilkan belasan kendaraan militer bertonase tinggi, melintas berbaris.

Namun, tiba-tiba seorang laki-laki yang tidak diketahui identitasnya melangkahkan kaki dari arah bahu jalan menuju ke tengah. Lelaki itu berhenti persis di hadapan tank terdepan dalam barisan tersebut.

Ia mencoba menghalangi laju tank dengan badannya. Tank mengarahkan lajunya menghindari lelaki tersebut, namun ia sekali lagi menghalangi tank untuk bergerak maju dengan memindahkan posisi berdirinya mengikuti ke mana pun tank tersebut bergerak.

Hingga akhirnya, lelaki itu terlihat naik ke badan tank, dan mencoba menyampaikan sesuatu pada orang yang ada di dalam.

“Saya berada sekitar setengah mil dari posisi tank tersebut, sehingga saya tidak bisa mendengarkan apa yang ia bicarakan di sana,” ujar Widener.

Tidak lama, lelaki itu kembali turun dari tank dan ditarik keluar oleh beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Karena saat itu, tank terlihat mengeluarkan asap dari arah samping.

Ketika itu, Widener berpikir keberadaan laki-laki itu akan mengacaukan komposisi foto yang semula telah ia rencanakan.

Sebab, sedikit saja ada unsur tambahan, atau pergeseran, maka perencanaan komposisi foto akan jauh berubah.

Kondisi badan

Permasalahan Widener tidak berhenti di situ. Sehari sebelumnya, saat tindakan kekerasan mematikan mulai dilancarkan, kepalanya terkena lemparan batu demonstran di pagi hari, sehingga meninggalkan rasa sakit.

Saat itu juga, Jeff Widener terserang sakit flu.

“Jadi saya sedikit sakit dan terluka saat mengambil gambar,” kata Widener.

Akan tetapi, ia harus tetap mendapatkan gambar-gambar terbaik dari kejadian bersejarah itu.

Melalui Facebook, Widener berkisah


https://edition.cnn.com/interactive/2019/05/world/tiananmen-square-tank-man-cnnphotos/

Melalui akun Facebook @JwffSWidener, ia menceritakan bagaimana upayanya tetap dapat mengambil momen pada suasana kacau yang melibatkan ratusan ribu orang.

Ia kerap menggunakan lensa wide angle dari Nikon berukuran 18mm selama bertugas di Tiananmen.

Sebagian foto ia ambil dari tepi jalan dengan berusaha keras mempertahankan posisi kamera di tengah massa.

Menurut dia, ketika itu banyak jurnalis China yang dicurigai bekerja untuk pemerintah. Sementara itu, jurnalis internasional pun bekerja dalam ancaman.

AGIKAN:

News Internasional
Kisah di Balik Foto “Tank Man” Saat Pembantaian Tiananmen 30 Tahun Silam
Selasa, 4 Juni 2019 | 10:32 WIB
Foto Tank Man karya Jeff Widener
Akan tetapi, ia harus tetap mendapatkan gambar-gambar terbaik dari kejadian bersejarah itu.

Baca juga: Miao Deshun, Tahanan Tiananmen Terakhir

Melalui Facebook, Widener berkisah

Melalui akun Facebook @JwffSWidener, ia menceritakan bagaimana upayanya tetap dapat mengambil momen pada suasana kacau yang melibatkan ratusan ribu orang.

Ia kerap menggunakan lensa wide angle dari Nikon berukuran 18mm selama bertugas di Tiananmen.

Sebagian foto ia ambil dari tepi jalan dengan berusaha keras mempertahankan posisi kamera di tengah massa.

Menurut dia, ketika itu banyak jurnalis China yang dicurigai bekerja untuk pemerintah. Sementara itu, jurnalis internasional pun bekerja dalam ancaman.

Pemerintah China mengontrol agar semua yang terjadi di sana tidak menyebar ke seluruh dunia. Beberapa hari sebelum kekacauan terjadi, pemerintah telah mencoba menghentikan media asal Amerika Serikat untuk menyiarkan secara langsung dari Beijing.

“Selalu ada risiko besar akan ditangkap dan disita gambar atau video hasil liputannya,” tutur Widener.

Menangkan penghargaan

Namun siapa sangka, foto yang menurutnya tidak sempurna dan diambil di tengah kondisi yang kurang optimal itu justru mendapat berbagai penghargaan di tingkat internasional.

Foto “Tank Man” ini memengangi Scoop Award di Perancis juga Chia Sardia Award di Italia. Tak hanya itu, foto Widener juga menjadi salah satu finalis di Pulitzer Prize, sebuah penghargaan bergengsi di Amerika Serikat.

Foto tersebut dinilai mengandung pesan pembangkangan terhadap rezim yang begitu kuat. Meskipun, hingga saat ini tidak diketahui siapa dan apa maksud dari keberadaan lelaki berbaju putih tersebut.

Sumber: Kompas

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita