Minggu, 28 Februari 2021

Tafsir Teror

Tafsir Teror

Ilustrasi (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Selain inflasi, beberapa tahun ini Lebaran, Hari Natal, Tahun Baru dipenuhi headline ledakan. Bukan ledakan kebahagiaan, melainkan ledakan teror. Yang meledak media massa, mungkin wartawan dan dewan redaksinya memiliki daya ledak tinggi, sedangkan pelaku teror membawa sesuatu berdaya ledak rendah.

Banner Iklan Swamedium

Keanehan ini terus berlangsung sejak reformasi, bahkan sebelumnya dimana konflik horizontal meluas pasca Orde Baru tumbang. Sebelum ada media sosial orang mengkhatamkan televisi dan koran, ada juga surel grup yang menyebarkan berita yang tidak ada di media arus utama. Namun masyarakat kebanyakan tetap menunggu berita resmi dari polisi.

Selama beberapa tahun beritanya seperti ini. (1) Ada kelompok radikal yang merupakan bagian dari sel internasional (2) Ada kelompok pengajian yang dicurigai (3) Ada proses cuci otak (4) Ada sasaran yang dibenci dan mesti dihancurkan (5) Sesekali ada transfer uang. (6) Pelaku membawa identitas lengkap untuk memudahkan pertolongan pertama. evakuasi, atau pengusutan. Sekuen dari teror ini dikenang oleh pembaca, seperti lagu Top Ten Nostalgia.

Berbeda dengan pelaku teror di Barat yang bisa jadi orang gila, salah asuhan, atau kaum ultranasionalis kanan. Teror di Timur hampir dipastikan jihadis sebutan populernya. Tak terkecuali di Indonesia yang kaya raya, yang hampir mustahil kemiskinan adalah penyebabnya.

Teror demi teror akhirnya seperti fotografi, ramai di berita koran, media arus utama, dan sekarang ada media sosial. Sebagai fotografi Baudrillard mengungkapkan, ‘apa yang tidak bisa diucapkan harus dijaga dalam diam’. Namun, berkebalikan dengan kalimat dalam kutipan di atas, fotografi dalam Top Ten Nostalgia adalah gerakan mundur dari momen-momen sebelumnya. Bisa saja momen itu imajinasi pembacanya ketika memandang sebuah fotografi. Misalkan saya berdua dengan Dian Sastro, di Paris waktu musim dingin. Atau saya ada di gig ketika Bad Brains manggung tahun 1982. Namun foto bom bunuh diri membuat kita tidak berandai-andai ada disana.

Momen ini bisa dihubungkan dengan apapun, Pilpres, Sunarko, Empat Tokoh Kartun, Mudik, Tiket Pesawat. Detilnya pun bisa dibuat. Teror itu menakutkan bagi yang berada disana dan tidak berada disana. Teror itu melampaui waktu, adegan kekerasan sebelum dan sesudahnya, efek kejut dan efek fotografisnya bisa mukur mungkret. Tapi sekali lagi teror yang mengerikan itu adalah ketika diam, penonton diam. Pelaku teror akan terteror dengan diam dan tanpa tepuk tangan. (*)

*Penulis: Widhyanto Muttaqien (Penikmat Literasi)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita