Friday, 19 July 2019

Kebangkitan Islam di Indonesia

Kebangkitan Islam di Indonesia

Foto: Syahganda Nainggolan. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — “Tq abangku yang hebat. Teruskan suarakan perubahan”. Itu pesan Sandiaga Uno ketika membalas WA saya terkait lebaran. Di masa lalu pesan perjuangan seperti itu biasanya hanya datang dari aktifis senior.

Saya tidak pernah pula membayangkan Sandiaga Uno berucap soal perubahan jika merujuk siapa dia 20 an tahun lalu. Dia dan seorang sahabatnya, mantan menteri perdagangan era SBY, via saya, meminta bertemu dengan staf khusus kepala BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) di hotel Dharnawangsa, lalu mereka ketemu membahas bagaimana peluang mereka masuk dalam bisnis akuisisi perusahaan yang ditangani BPPN. Saya mendengarkan mereka cuma bicara uang dan uang.

Saat ini Sandiaga menjadi ikon, bukan sebagai lelaki tampan dengan uang triliunan. Namun, dia telah menjadi ikon perjuangan dengan narasi baru, yakni demokrasi, keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Sandi juga berhasil membangun kelompok sosial baru yang disebut kelompok emak2, sebuah “invention” dalam khazanah ilmu sosial, di mana perubahan sosial dan gerakan ibu2 menjadi tema baru. Khususnya ibu2 muslimah.

Vedi Hadiz dalam “Populisme Islam” (edisi Indonesia, 2019) coba menguraikan bagaimana politik identitas Islam saat ini bisa merangkul multi level/kelas kelompok sosial, baik kelas menengah perkotaan, kaum borjuasi kecil dan kaum miskin kota. Hadiz, yang coba mengkaji dengan pendekatan sosial-historis dan politik-ekonomi, melihat fenomena ini, yang disebutnya Populisme Islam Baru. Konvergensi ummat Islam dalam sebuah identitas yang sama terjadi karena ketersisihan yang lama dalam peristiwa modernisasi dan pembangunan yang memarjinalkan mereka, maupun sebagiannya terhambat dalam mobilisasi vertikal di batas tertentu.

Hadiz yang menyelesaikan buku berbasis riset di Indonesia, Mesir dan Turki ini melihat kebangkitan Islam di Indonesia gagal dalam ukuran pencapaian menguasai negara atau aset-aset ekonomi, jika dibanding Turki, khususnya. Permusuhan lama Islam dengan negara dan borjuasi Cina penguasa ekonomi sejak jaman penjajahan Belanda (di mana etnis Cina mendapatkan privilege), menurut Hadiz, menghalangi orang2 Islam dalam mobilisasi vertikal. Namun, dalam hal ini, tampaknya Hadiz belum memasukkan fenomena Sandiaga Uno, gerakan2 “212” yang melibatkan jutaan kaum menengah perkotaan dan fenomena Anies Baswedan “menguasai” Jakarta. Fenomena terakhir ini terjadi setelah riset Hadiz, 2016.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)