Tuesday, 18 June 2019

Polemik Simbol Iluminati di Masjid As-Shafar: Antara Kreatifitas dan Sensitifitas

Polemik Simbol Iluminati di Masjid As-Shafar: Antara Kreatifitas dan Sensitifitas

Masjid As Shafar.

Sragen, Swamedium.com — Tulisan ini adalah permintaan beberapa rekan termasuk (terutama) desakan teman hidup (istri hehe) untuk memberikan pandangan saya tentang kegaduhan bangunan masjid ini. Sejak mengikuti polemik, saya memang tidak ingin buru-buru berpendapat sebelum saya melihat, mengunjungi dan merasakan langsung bangunannya dengan mata kepala dan panca indera saya sendiri. Saya melihat banyak dari rekan-rekan yang terburu-buru berpendapat dan beropini tanpa melihat dan mengamati langsung di lapangan, dan itu menurut saya budaya yang kurang baik dari masyarakat kita.

Saya hanya ingat top manajemen di Perusahaan Toyota, bila ada masalah di satu bagian pabriknya, lalu pemimpin rapatnya bertanya kepada para direkturnya yang ikut rapat, adakah yang belum melihat kondisi di lapangannya? Walaupun hanya dua orang dari sekian puluh peserta rapatnya, ternyata ditunda rapat itu hingga dua orang yang belum melihat sampai mengamatinya sendiri. Itu mungkin supaya tidak bikin masalah menjadi tambah rumit dan bertele-tele karena kurang lengkap memahami persoalannya dan pembahasan rapatnya bisa lebih berorientasi pada solusi tidak hanya perang pendapat atau opini.

Tafsir atau Interpretasi Wujud dan Simbol Arsitektur

Bentuk dan wujud arsitektur memang bisa ditafsirkan apa saja oleh masyarakat atau pengamat tanpa harus meminta klarifikasi arsitek atau perancangannya. Tidak sepenuhnya benar bila masyarakat, pengamat atau bahkan kritikus arsitektur harus meminta penjelasan atau klarifikasi (tabayyun) kepada sang arsitek atau perancangnya dulu sebelum menafsirkannya atau menginterpretasikannya kemudian menyampaikan pendapatnya terkait suatu bangunan tertentu atau simbol tertentu.

Pertanyaannya, siapa yang boleh menginterpretasikan dan menafsirkan suatu bentuk karya arsitektur atau simbol dalam arsitektur tertentu itu? Apakah harus orang yang mendalam pengetahuannya tentang arsitektur? Apakah hanya para arsitek akademisi arsitektur atau sejarahwan dan kritikus arsitektur? Atau (!) bahkan hanya arsiteknya sendiri? Mungkin itu benar dan mungkin ada sebagian yang berpendapat demikian.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)