Tuesday, 15 October 2019

Merasa Diintimidasi Polisi, Keluarga Korban 22 Mei Lapor ke LPSK

Merasa Diintimidasi Polisi, Keluarga Korban 22 Mei Lapor ke LPSK

Aksi damai kedaulatan rakyat berubah menjadi aksi massa tak terkendali akibat tindakan represif aparat kepolisian.

Jakarta, Swamedium.com — Keluarga korban tewas saat kerusuhan 22 Mei mendatangi kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Jakarta Timur, Senin, 17 Juni 2019. Mereka memohon perlindungan karena merasa terancam dan terintimidasi oleh pihak kepolisian.

Kuasa hukum keluarga korban tewas, Wisnu Rakadita, mengatakan dirinya menerima kuasa dari empat keluarga korban tewas dalam kerusuhan 22 Me, untuk meminta permohonan perlindungan kepada LPSK karena merasa ada yang mengancam.

Wisnu diberi kuasa kepada empat keluarga korban tewas, yakni keluarga Muhammad Harun Al Rasyid, 15 tahun, Farhan Syafero (31), Adam Nurian (19) dan Sandro (32). “Psikis mereka terganggu,” kata Wisnu di kantor LPSK.

Menurut Wisnu, keluarga korban kerap didatangi oleh pihak tertentu, termasuk kepolisian. Ancaman, kata dia, bahkan telah terjadi saat keluarga mengambil jenazah korban tewas.

Selain itu, keluarga korban juga merasa terancam oleh orang yang diduga polisi yang meminta mereka membatalkan laporan dugaan pelanggaran HAM ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

“Kami menduganya yang melakukan pengancaman pihak kepolisian. Untuk itu, kami meminta bantuan perlindungan ke LPSK.”

Meski hanya mendapatkan kuasa dari empat keluarga, Wisnu tetap melaporkan seluruh korban tewas dalam kerusuhan 22 Mei ke LPSK. Total korban tewas yang dilaporkan mencapai 10 orang. “Sembilan di Jakarta dan satu di Pontianak,” ujarnya.

Sumber: Tempo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.