Selasa, 04 Agustus 2020

Politisi Kemarin Sore dan Politisi Kemarin Dulu

Politisi Kemarin Sore dan Politisi Kemarin Dulu

Faldo Maldini

Pada Pilpres 2019 kita bisa melihat dengan kasat mata manuver politik yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan gerbong Demokrat.

Ketika Prabowo-Sandi tengah berjuang hidup mati melawan apa yang mereka sebut sebagai kecurangan, SBY terang-terangan sudah mulai mengalihkan dukungannya ke Jokowi.

Dalihnya bisa bermacam-macam. Alasannya “kenegarawan,” menjaga keutuhan bangsa dan negara, dan segudang alasan lain. Namun publik sangat paham bahwa tujuannya tak lain hanya untuk mendapatkan sekerat jabatan.

Begitu juga signal-signal politik yang diberikan oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan dan sejumlah petinggi PAN lainnya. Publik mahfum kemana arahnya.

Mereka bukanlah politisi kemarin sore. Mereka adalah politisi kemarin dulu. Politisi kawakan. SBY Bahkan pernah menjadi presiden selama dua periode. Zulkifli Hasan pernah menempati posisi jabatan tinggi. Mulai dari menteri sampai ketua MPR.

Jadi ini bukanlah soal jam terbang. Tapi lebih soal perilaku, pragmatisme politik dan abai terhadap nilai-nilai idealisme.

Pragmatisme semacam ini bukan fenomena baru dalam dunia politik kita. Pada Pilpres 2014 kita juga menyaksikan politisi pendukung Prabowo-Hatta berlompatan ke gerbong Jokowi-JK untuk mendapatkan jabatan dan rente ekonomi dari kekuasaan.

Golkar, PPP, PAN beradu cepat meninggalkan Gerindra dan PKS yang bertahan dalam Koalisi Merah Putih (KMP).

Mereka seperti seorang pria yang sudah melirik wanita lain, pada saat berlangsungnya pemakaman istrinya. Boro-boro menunggu tanah pemakaman mengering. Sudahnya punya PIL (Penguasa Idaman Lain).

Cerita seputar ini akan menjadi semakin tragis bila ternyata Prabowo bersama gerbong Gerindra akhirnya juga bersedia bergabung ke dalam gerbong Jokowi. Tidak tahan terlalu lama menjadi oposisi.

Politisi begini bukanlah politisi pejuang. Bukan politisi kelas negarawan seperti Bapak Pendiri Bangsa yang rela menderita meringkuk di balik terali penjajah.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.