Selasa, 04 Agustus 2020

Politisi Kemarin Sore dan Politisi Kemarin Dulu

Politisi Kemarin Sore dan Politisi Kemarin Dulu

Faldo Maldini

Idealisme memerdekakan bangsa Indonesia tak sepadan ditukar dengan hidup nyaman menjadi antek penjajah.

Mereka hanya politisi kacangan yang berlagak sok negarawan.

Ketiga, ini kabar baiknya. Masyarakat kita ternyata masih sangat menghargai nilai-nilai kesetia-kawanan, idialisme, moral dan etika. Baik dan buruk. Tidak semua larut dalam pragmatisme.

Bisa dibayangkan bagaimana masa depan bangsa ini bila semua hanya diam melihat perilaku politisi yang bertindak seperti bajing lompat.

Hari ini bersama Prabowo-Sandi. Mereka seakan rela mati dan pasang badan paling depan. Namun ketika ada tanda-tanda Prabowo-Sandi akan kalah, mereka serta merta langsung lompat pagar, memuja habis Jokowi seraya menghujat Prabowo-Sandi.

Bagi para pendukung Jokowi harusnya juga berhati-hati dengan politisi model begini. Jika arah angin berubah, dapat dipastikan mereka akan menjadi orang pertama yang lari lintang pukang.

Mereka serta merta akan meninggalkan Jokowi seraya mencerca, mencaci maki seperti yang mereka lakukan terhadap Prabowo-Sandi. Itu watak asli mereka.

Orang Jawa menggambarkan dengan menarik dalam satu kalimat: Kalau watuk (batuk) masih bisa diobati. Kalau watak, tak Mungkin disembuhkan.

Politisi medsos, politisi dadakan, politisi kemarin sore maupun politisi kemarin dulu, ukurannya bukan pada apa yang mereka katakan.

Apakah mereka satu kata dengan perbuatan. Apakah mereka tetap menjaga nilai-nilai kesetia-kawanan dalam kondisi apapun, susah senang. Apakah mereka tetap menjaga nilai-nilai etika dan moral. Tidak hanya bener, tapi juga pener. end (*)

*Penulis: Hersubeno Arief
Sumber: Hersubeno Point

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.