Kamis, 09 Juli 2020

Salah Input Dana Kampanye Jokowi, No Perfect Crime?

Salah Input Dana Kampanye Jokowi, No Perfect Crime?

Foto: Ilustrasi (Hersubenoarief.com)

Pendek kata, paling mudah dijelaskan, salah input. Case closed.

Kok jadi mengingatkan kita pada Situng KPU ya? Tapi sekali lagi itu adalah jawaban yang naif, terkesan bodoh, tapi paling mudah dan “logis.” Itulah kelebihan seorang pengacara.

Coba tempatkan diri kita sebagai tim kuasa hukum paslon 01. Laporan dana kampanye ini posisinya sangat krusial. Bendahara tim kampanye akan menyusunnya dengan sangat hati-hati.

Sudah menjadi rahasia umum, tidak pernah ada laporan kampanye yang menyampaikan data benar dan apa adanya. Banyak dana-dana politik yang tidak Mungkin dilaporkan. Sebut lah salah satunya operasi money politics.

Sebutlah mulai dari dana kampanye pilkada tingkat kabupaten/kota, gubernur, parpol, sampai pilpres. Tidak ada satupun, ya benar tidak ada satupun yang melaporkan jumlahnya secara benar.

Jumlahnya yang dilaporkan pasti jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran dana kampanye sesungguhnya.

Hanya tim kampanye bodoh dan dungu yang melaporkan dana kampanye apa adanya. Apalagi mencantumkan data, sang kandidat—yang juga presiden inkumben— ikut menyumbang dalam jumlah yang lebih besar dari harta kekayaannya, dan kemudian dinyatakan salah input. Kok bisa?

Apalagi seperti dikatakan Luhut, laporan dana kampanye itu sudah dilakukan audit oleh akuntan publik. Semakin aneh khan?

Benar bahwa setiap laporan dana kampanye disertai dengan audit dari akuntan publik. Namun Anda tahulah sendiri seperti apa itu?

Sudah jadi semacam kesepakatan bahwa KPU juga menerima begitu saja semua laporan. Tidak pernah ada upaya untuk melakukan audit secara independen.

Kasus “salah input” ini mengingatkan kita pada sebuah adagium no perfect crime. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Petunjuk kecil bisa menuntun kita pada hal-hal yang besar.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.