Minggu, 29 November 2020

Situng Tidak Selesai Karena Sulit Cocokkan Persentase Kemenangan

Situng Tidak Selesai Karena Sulit Cocokkan Persentase Kemenangan

Suasana situng KPU

Perbincangan Akhmad Danial
dengan Canny Watae

Jakarta, Swamedium.com — Teman-teman Pro Prabowo masih ingat seleb FB Canny Watae? Dia yang menyatakan bahwa pola hitung SITUNG KPU diatur dengan POLA NERACA.

Simpelnya, data input yg masuk di situng “diatur” dengan cara tidak benar. Pertama, lewat cara menginput data suara masuk hanya dari daerah2 yang dimenangkan oleh Paslon 01, Jokma. Sementara data dari daerah2 yang dimenangkan Paslon 02 “ditahan” inputnya.

Kedua, data yang dimasukkan itupun, memiliki satu pola: suara Paslon 01 dinaikkan, misal, 30 suara menjadi 130 suara. Sebaliknya, suara Paslon 02 dikurangi, misal 130 menjadi 13. KPU mengatakan hal itu “salah input” karena human error. Tapi upaya perbaikan angkanya dipertanyakan.

Menurut Canny Watae, perilaku situng KPU seperti itu karena sejak awal situng “dirancang” untuk sesuai dengan hasil QC yang memenangkan Paslon 01 dengan prosentase 55% untuk 01 dan 45% untuk 02. Pola input dibuat seimbang seperti Neraca agar prosentase di pie chart situng tetap di angka kemenangan Paslon versi QC itu.

Canny Watae membuat bbrp penjelasan di FB lewat siaran langsung di FB, masuk juga di Youtube dan cukup viral. Dia terus mengkritisi hasil rekap manual suara KPU hingga berbuah pahit. Akunnya “dihanguskan” FB sehingga analisis2nya tdk bisa ditonton dan dibaca lagi.

Kini, KPU menyatakan 12 provinsi belum juga menyelesaikan Situng. Ini termasuk aneh karena awalnya situng dirancang sebagai KONTROL atas hasil Rekap. Praktiknya, Rekap suara selesai lebih dulu dan ironisnya, alat kontrol berupa Situng tdk kunjung selesai.

Terkait hal itu, saya “mewawancara” Canny Watae lewat WA. Ini hasilnya. Selamat membaca!

———————
——————–

SAYA : Sampai sekarang situng tidak selesai2. Gimana itu Om? 😁

CANNY WATAE: Iya nih. Kita mau kontrol Rekap dengan benchmark Situng..eh, Situngnyanya kagak selesai2 😁

Terakhir melihat “neraca” Situng, prihatin banget.. kalo nggak salah ingat, agregat “kelebihan” vote masih 1,5 juta suara.

Dengan “mata telanjang” kelebihan vote ini nggak kelihatan, karena ketutup agregat kekurangan yang jumlahnya minus 1,5 juta…

*eh susah dipahami ya?

Sederhananya: sisa2 (jejak?) pengaturan skor yg dipaksa 55:45 sejak dini teramat susah dihilangkan

SAYA : Berarti susah selesainya itu faktornya karena ada percobaan rekayasa hasil ya? Data om sendiri gimana?

CANNY WATAE: Aku coba scatter plot data C1 yang kupunya… jatim itu jokowi memang menang, tapi bukan 65%. Paling tinggi 55. Jateng bukan 77. Paling tinggi 70. Jabar, semestinya Prabowo bukan 60, tapi 65%.

Secara keseluruhan 02 menang dgn skor 51,5%. Hanya selisih 3% dengan 01 yang 48,5%.

Jumlah suara sah sktr 138 juta. Jadi ada kesesuaian dgn trend kenaikan jumlah suara sah sejak 2004. Yaitu naik 5 juta suara dari 2004 ke 2009. Naik 5 juta suara dari 2009 ke 2014.

Sementara 2014 ke 2019 ini kalau pake hasil rekap KPU, sangat tidak wajar karena terjadi kenaikan jumlah suara sah sampe 20 juta. Terlalu keterlaluan.

Tingkat partisipasi juga keterlaluan. Sampe 81,9%. Padahal hanya sktr 70% aja… kurang lebih sama dengan TPP 2014.

SAYA: Harusnya suara Prabowo berapa?

CANNY WATAE: Suara Prabowo-Sandi semestinya 71an juta. Suara Joko-Ma’ruf 67an juta. Selisih 4 jutaan.

Pembalikan suara itu 3 jutaan. Dari suara utk 02 dibalik jadi suara utk 01. Dampaknya, 02 turun jadi 68 juta, 01 naik jadi 70 juta. Nah, yg benar2 suara siluman itu 15 juta. Sehingga suara 01 menjadi 85 juta.

Menurutku, skor 55:45 utk kemenangan JokMa itu sudah pre-decided. Tinggal melihat hasil riil di Hari H.

Kalo Jokma menang alamiah, maka menu 55:45 itu tdk perlu disajikan. Cukup memerintahkan penjagaan kotak suara secara baik dan benar. Tapi kalo kalah, ya menu 55:45 disajikan.

Hasil riil hari H itu menjadi patokan awal operasi. Tentu operasi(2)nya sdh terdiri dari bbrp opsi. Kalo Jokma start dari 47%, kayak gimana operasinya. Kalo jokma start dari 48%, kayak gimana, dst…

SAYA: Waaaah… Kayak di film2 😅. Aku mulai bisa meraba2 kenapa situng gak beres2 nih! Hehehee… 😁

CANNY WATAE : Nah, jejak jejak operasi itu terlihat dari perilaku Situng.

1 minggu pertama, bahkan 1 hari pertama, Situng sdh harus menyajikan skor 55:45, no matter what. Maka terlihatlah kebrutalannya.

Misal salah input dari suara sejumlah 15 utk Jokma naik jadi 150. Atau suara 132 utk PrabowoSandi jadi 13 saja, atau jadi 32… dan semacamnya.

Yg penting skor 55:45 terbentuk segera.
Perkara nanti data diralat, itu lain soal, karena jumlah suara yg “menjadi ada” dan “menjadi hilang” di atas tadi dengan mudah bisa di-recreate di TPS lain yang opsinya buanyaak banget…

Itulah makanya sebagian pengamat mendapati data situng berubah-ubah..

Akan tetapi, pada akhirnya, sisa sisa atau residu pembrutalan Situng itu makin susah dihilangkan seiring mendekatnya data masuk 100%.

SAYA: Jadiii… Gunanya situng adalaaah…?

CANNY WATAE: Gunanya Situng (skornya 55:45, and maintained at that points) adalah sebagai “obat penenang” masyarakat… bahwa, Pilpres is over karena QC ternyata sesuai Situng.

SAYA: JLEB!

Sumber: FB Penulis

Related posts

14 Comments

  1. Anonim

    Cerdas yg berbuat kecurangan
    Lebih cerdas yg membongkar kecurangan

    Maha Cerdas, Dia yang melihat segala kecurangan manusia… Sembunyi tanpa diketahui orang lain… Tak sadar, Dia melihat…dg sangat jelas….

    Reply
  2. Anonim

    Kalau sdh tau situnh dirancang curang dan hasilnya adalah kemenangan prabowwo kenapa tdk adda upaya dari pendekar pembela kebenaran dan org” pintar utk mengupayakan tegaknya keadilan malah sibuk semua melakukan pembenaran yg salah.. Artinya org indonesia ini osinya pengecut lebih banyak ketimbang yg benar

    Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.