Kamis, 24 September 2020

ILC Absen Selama 2,5 Bulan, Cermin dari Wajah Buruk Demokrasi

ILC Absen Selama 2,5 Bulan, Cermin dari Wajah Buruk Demokrasi

Foto: Karni Ilyas, host Indonesia Lawyers Club. (TVOne)

Jakarta, Swamedium.com — 2 Juli 2019, ILC kembali tayang setelah 2,5 bulan Karni Ilyas “cuti”. Tayangan terakhir ILC adalah Selasa malam, 16 April, tepat malam sebelum hari pencoblosan.

Setelah itu, ILC tak pernah tayang lagi, padahal ada banyak sekali topik yang bisa diangkat.

● Ada misteri ratusan petugas KPPS dan para saksi serta petugas Panwas yang terkapar sakit hingga meninggal dunia.

● Ada carut marutnya tampilan website Situng KPU yang hasil penghitungannya sama sekali tidak akurat, bahkan errornya mengalahkan kemampuan berhitung anak kelas 3 SD. Website senilai milyaran kemampuan akurasi hitungannya kalah dengan kalkulator sederhana tukang sayur yang hanya beberapa puluh ribu saja.

● Ada banyak beredar video mengenai kotak/kardus suara yang dibawa kabur keluar dari tempat penyimpanan, lalu kardusnya dibuka, isinya diambil, dsb
Kasus semacam ini biasanya ILC bisa menghadirkan orang yang mengunggah video atau bahkan yang melakukan perekaman.

Bahkan ILC lebih bisa memberikan perlindungan kepada saksi (dibandingkan MK) pelaku perekaman, dengan cara hanya menampilkan suara yang sudah dibuat kabur (seperti suara film kartun) dan sosok orangnya dibuat siluet, atau wajahnya diberi topeng.

Sayang, ditengah begitu banyaknya FAKTA dan INFORMASI yang bisa digali dan didalami, Karni Ilyas memilih menepi, masuk ke dalam gua. Sehingga publik kehilangan akses informasi yang bisa dielaborasi.

Pak Karni Ilyas bukanlah wartawan ecek-ecek. Beliau suhu bagi para jurnalis. Karni Ilyas juga bukan orang buta hukum. Justru hukum lah yang jadi keahlian dan concern-nya selama puluhan tahun.

Maka, jika sekelas Karni Ilyas saja memilih “cuti”, menyepi dari hiruk pikuk kesemrawutan Pilpres dan membiarkan berhamburannya fakta dan informasi menjadi mubadzir, tentu BUKAN karena beliau kehilangan naluri investigasinya, kehilangan sense of journalism-nya. Tapi pasti ada alasan kuat, yang membuatkan suka tak suka harus menyingkir sebentar. Dia menyebutnya ada “badai” yang tak memungkinkan dia berselancar.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.