Wednesday, 17 July 2019

Rekonsiliasi Para Oligarki

Rekonsiliasi Para Oligarki

Foto: Ilustrasi (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Rencana pertemuan Jokowi-Prabowo, apakah rekonsiliasi, silaturahmi, rujuk nasional, atau boleh sebut apa saja namanya, semakin menegaskan kepada kita bahwa negara ini sesungguhnya kian dalam dikuasai oleh oligarki.

Demokrasi yang coba kita adopsi melalui mekanisme pemilihan setiap lima tahun sekali, hanyalah demokrasi prosedural yang artifisial. Rakyat hanya instrumen, bukan elemen utama perubahan atau rotasi kekuasaan.

Tujuannya untuk mendapatkan stempel bahwa rakyat telah dilibatkan. Dengan begitu pemerintah bisa secara absah mengklaim sebagai pemerintah yang legitimate, mendapat mandat dari rakyat. Tak lebih dan tak kurang, hanya itu.

Rakyat dilibatkan lima tahun sekali. Setelah perhelatan usai, rakyat tidak lagi dilibatkan, bahkan ditinggalkan. Ketika masanya tiba, rakyat kembali dimobilisasi. Begitulah siklus lima tahunan itu kembali berulang.

Meminjam tipologi Winters (2011) saat ini para oligark telah bermetamorfose menjadi oligraki kolektif, dari sebelumnya bersifat terpusat di satu tangan pada masa Orde Baru.

Dalam oligarki kolektif, kelompok kecil elit politik dan elit pemilik modal/kekayaan inilah yang mengontrol dan mengatur secara efektif rotasi maupun distribusi kekuasaan.

Tujuan utamanya agar kekayaan, sumber daya material tidak berkurang dan terdistribusi secara terbatas di dalam kelompok mereka saja.

Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Menggantikan prinsip demokrasi : dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Dalam demokrasi langsung berbiaya tinggi seperti Indonesia, para oligarki mendapat celah masuk yang sangat sempurna. Peran pemilik modal sangat menentukan. Siapa yang memiliki dana kampanye besar, dia akan memenangkan pemilu.

Dengan kekayaan di tangan yang begitu besar, mereka bisa mengontrol sebuah pemilu dan hasilnya. Caranya sangat sistematis. Tangan-tangan kekuasaan mereka bisa menjangkau sangat jauh. Masuk ke partai politik, legislatif, eksekutif, yudikatif, media, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, kampus, akademisi, bahkan sampai lembaga keagamaan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)