Senin, 29 November 2021

“Forbidden Face”

“Forbidden Face”

Foto: Forbidden Face.

Jakarta, Swamedium.com — Seorang wanita bernama Latifa ketika perang Taliban menjadi objek propaganda untuk melawan penerapan syariat islam. Burkah menjadi suatu alasan atas ketidakrelaan menutup diri bagi seorang Latifah dengan anggapan wajah mereka adalah hak untuk ditampilkan dan bukan sebagai hal yang terlarang (Forbidden Face).

Banner Iklan Swamedium

Seorang fotografer bernama Michael Huniewicz melakukan publikasi foto2 terlarang di korea utara yang mana gambar situasi menunjukkan kontradiktif akan otoritarian kekuasaan.
Berbagai pelarangan atas foto atau gambar merupakan pengekangan publikasi terhadap sesuatu menunjukkan adanya otorianisme atau memaksa realitas yang berbeda menjadi satu tanpa warna.

Para diktator dunia seperti Hitler, stalin , mao Zedong ataupun Pol Pot yang tidak segan membawa kematian pada jutaan manusia selama kepemimpinannya demi sebuah kekuasaan Otorianisme. Kekejaman mereka tidak diragukan, jumlah rakyat yang dibunuhpun fantastis. Serta tidak ada perbedaan pandangan dari para ahli politik dunia internasional bahwa mereka memang penjahat kemanusiaan.

Sungguh menarik dari berbagai kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan, dunia internasional tetap tidak memberikan larangan atas publikasi wajah mereka. Atau bisa dikatakan bahwa wajah mereka bukanlah forbidden face. Mungkin internasional masih memandang Hak asasi seseorang walaupun orang tersebut sebagai penjahat Hak asasi Manusia –HAM.

Vice versa, di Indonesia muncul langkah controversial melalui media social semacam facebook & instagram, terjadi forbidden face atas beberapa tokoh khususnya ulama.

Wajah mereka dilarang ditampilkan di media social, sehingga mengupload wajah mereka merupakan tindakan yang dianggap melanggar aturan media social.

Memang unik kasus forbidden face di Indonesia, karena bila kita menilik aturan hukum yang diberikan oleh perusahaan media social tersebut, tidaklah didapati pelanggaran tersebut. Karena bila anda mengupload wajah diktator atau wajah pembunuh jutaan masyarakat maka perusahaan media social tidak akan perduli tentang wajah siapa yang anda upload di akun anda. Namun bila anda meng upload wajah beberapa ulama yang dianggap berlawanan dengan penguasa maka otomatis akun anda akan terkena masalah, mulai dari penghapusan status hingga pemblokiran.

Pertanyaan yang muncul dibenak kita, apa kepentingan perusahaan media social terhadap pelarangan wajah para ulama tersebut? Apakah ulama tersebut mengganggu perusahaan mereka? Serasa belum ada bukti yang mengarah kesana.

Namun bila kita menilik secara politik otoritarianisme bisa dikaitkan, sebagaimana ulama tersebut banyak melakukan kritisi terhadap rezim, maka mudah bagi rezim untuk memperalat perusahaan untuk melakukan pelarangan wajah sehingga tidak menimbulkan pengaruh yang besar atas kritisi yang dilakukan para ulama.

Kasus ini memang unik dan mungkin pertama kali ada, namun dahsyat bila ditelaah secara hukum khususnya pelanggaran hak asasi manusia.
Contoh, bagaimana bila seorang ulama berfoto bersama keluarga atau para sahabatnyapun harus kehilangan kesempatan untuk mempublikasikannya karena wajahnya terlarang. Bahkan Foto seorang ulama mencium bendera negaranya merah putihpun ikut dihapus karena secara pribadi dia selalu mengkritisi rezim yang berkuasa.

Wow memang dahsyat ini semua diluar dari logika, saat ini mungkin mereka mampu mengendalikan perusahaan media social untuk menghalangi publikasi foto ulama, bukan tidak mungkin kedepannya akan ada sweeping dari rumah kerumah untuk mencopot foto ulama oleh polisi dan tentara. Demi sebuah otorian yang biasanya kerap dilakukan oleh Negara komunis. (*)

*Penulis: Abah Dollah

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita