Thursday, 21 November 2019

Membaca “Informal Summit” Prabowo – Jokowi

Membaca “Informal Summit” Prabowo – Jokowi

Jakarta, Swamedium.com — Saya ingin berbagi catatan, sebagai pengamat, fenomena baru: pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT. Di awal saya ingin menyimpulkan: REKONSILIASI? MASIH JAUH. Ini judul kultwit ini. Rujukan analisis saya adalah praktik diplomasi: Summit.

Dalam dunia diplomasi ada yang ditakutkan oleh para diplomat: itulah ‘INFORMAL-SUMMIT’, (yakni) ketika kedua pemimpin negara bertemu, tanpa didampingi delegasi masing2, tanpa didampingi penasehat, tanpa agenda, dan hanya mereka yang tahu mau bicara apa.

Terutama ketika terjadi kegentingan hubungan antar-negara, dalam state of preparadness menuju konflik bahkan perang dengan taruhan yang besar, atau ada isu2 krusial yang berpotensi bahaya bagi kepentingan negara.

Dalam ‘informal summit’ atau juga disebut dalam format ‘tete-a-tete’, agenda begitu bebas, apa saja bisa diperbincangkan oleh kedua kepala negara, dan memutuskan apa yang mereka sepakati. Atau setuju untuk tidak sepakat: agree to disagree. Atau simbolik.

Banyak terjadi terobosan via ‘informal summit’, bahkan isu2 terpenting sekalipun yg selama ini ‘deadlock’. Ketika negosiasi panjang tak berbuah, ayo ketemu ngomong langsung. Deadlock membuat frustrasi “dianggap ulah para negosiator’ maka kepala negara bertemu dlm ‘informal-summit’.

Dalam ‘informal-summit: venue, format, agenda tak diatur secara protokoler. Kedua pemimpin bersalaman dan ngomong langsung satu demi satu, apa saja yang ingin dibahas dan apa usulan dan apa pula keputusan yang ditawarkan. Jika disetujui lahirlah keputusan.

Karena ada ‘kejutan’ keputusan terhadap hal2 yang diperjuangkan mati2an di arena Negosiasi yang sebelumnya telah dipertimbangkan seluruh aspeknya, dan tiba2 dengan keputusan ‘informal summit’ semua berubah: ada yang menyenangkan dan sering tidak menyenangkan.

Berbeda dengan halnya ‘FORMAL-SUMMIT’ semua dipersiapkan dengan rinci: agenda, posisi, bahkan pengaturan keprotokolan semua harus disusun berbasarkan posisi negara bahkan ‘gengsi negara’. Soal2 posisi duduk dan posisi bendera saja para diplomat rela berdarah-darah.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.