Tuesday, 20 August 2019

Menang Curang, Legitimasi di Awang

Menang Curang, Legitimasi di Awang

Foto: Ilustrasi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Apakah “keadilan” hanya bisa kita peroleh di ruang pengadilan? Jawabannya tentu saja, tidak. Keadilan itu soal rasa. Dia bersemayam dalam hati. Karenanya, banyak kasus yang diputus di pengadilan, dalam realitasnya bertentangan dengan “rasa keadilan” yang ada di hati publik.
Dalam perspektif seperti itulah kita harus melihat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak semua gugatan kubu Prabowo 27 Juni lalu. Kubu Prabowo sejatinya tidak kalah. Keterangan saksi-saksi kubu 02 telah membuka mata publik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Target utamanya bukan kemenangan, tapi mengusik “rasa keadilan” publik.

Karenanya, meski menang di MK, sangat wajar jika kubu petahana masih menggebu untuk bertemu secara publik dengan Prabowo. Hal itu karena kesadaran, pemilik legitimasi politik di hati publik adalah Prabowo. Hal ini belaku tidak saja di kalangan pendukung Prabowo, namun mungkin di kubu petahana yang memiliki kecerdasan akal dan mau menggunakan nurani.

Apalagi sudah menjadi kesadaran umum para ahli hukum, peradilan pidana kita, mengarah pada apa yang disebut pakar hukum Luhut MP. Pangaribuan sebagai “peradilan sesat”. Ihwal peradilan sesat ini dikemukakan Luhut saat menjadi narasumber dalam diskusi tentang penegakan hukum dan keadilan di Lembaga Pengkajian MPR, tempat saya berkiprah, beberapa waktu lalu.

Yang dimaksud dengan “peradilan sesat” adalah sebuah proses peradilan dimana berbagai kasus ditangani dan diputuskan tanpa pemahaman yang benar dan sempurna dari aparat penegak hukum atas duduk perkaranya. Hal itu terjadi mulai tingkat penyelidikan dan penyidikan polisi, penuntutan jaksa sampai tingkat pengadilan oleh hakim.

Kondisi peradilan kasus seperti itu bukan terjadi karena kapasitas aparat penegak hukum (APH) rendah. Sistemlah yang membuat APH tidak mampu memahami duduk perkara dengan benar sehingga keputusannya sering “sesat” dan berlawanan dengan rasa keadilan masyarakat. Mari kita lihat ilustrasi sistem peradilan yang melahirkan keputusan sesat.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)