Tuesday, 20 August 2019

Randevu MRT

Randevu MRT

Jakarta, Swamedium.com — Tanggal 11 Juli 2019 saya membuat posting yg intinya pentingnya Jokowi punya foto duduk berdua dan salaman dengan Prabowo.
Itu adalah manuver politik bagi Jokowi, di mana secara politik pula ia akan mendapat amunisi legitimasi, melemahkan kekuatan Prabowo (baca; pendukung Prabowo yang lebih dari separuh pemilih dan nyaris semuanya militan), lalu Negara dianggap stabil, lalu uang bercampur investasi asing yang sempat terpending akibat kebuntuan politik paska Pilpres bisa masuk lagi. Itu analisis saya.

Menurut info kawan saya di dalam lingkaran Kartanegara, sudah dua kali Jokowi menelepon langsung PS, meminta untuk bertemu.
Telepon yang kedua, Jokowi menelepon saat PS bersama-sama orang-orangnya.
PS menginfokan Jokowi telepon. Sesudah itu, seorang kawan di situ bilang, “Bapak gak usah respons, biar aja saya yang pergi, toh saya bukan siapa-siapa.” Disambut oleh ketawa yang hadir.

Tanggal 12 Juli, kawan saya menginformasikan, bisa ada hal yg mengecewakan publik karena akhirnya ada desakan pertemuan dari Jokowi yg diterima oleh PS. Ia ada dalam pertemuan tersebut.

Menurut kawan saya, PS paham akan menerima gelombang kritik, kekecewaan, hingga kemarahan pendukungnya.
Karena yang dibaca public adalah sebuah bungkusan luar, simbol. Publik pendukung agak sulit diajak berkontemplasi jauh pada konten pertemuan lalu mengurainya.
Sampai ada kalimat beliau, bahwa bagi yang sudah tidak kuat lagi ikut berjuang, atau mau “lompat perahu”, dipersilakan.

Kawan saya menerjemahkan, PS tidak menginginkan Negara hancur dan ada perumpahan darah. Tapi beliau juga tidak mau membuat komitmen apa-apa dalam pertemuan tersebut, dan tidak mau mengalah. Taktik perang tetap berlangsung.
Tapi uniknya, di akhir kalimatnya PS bilang, “Insya Allah kita menang.”

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)