Friday, 13 December 2019

Keruntuhan Ekonomi Suatu Negara, Sumber Delegitimasi Sebuah Pemerintahan

Keruntuhan Ekonomi Suatu Negara, Sumber Delegitimasi Sebuah Pemerintahan

Foto: Krisis ekonomi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Awal tahun 1998, saya ingat betul saat itu sempat terjadi rush di banyak supermarket besar di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Saat itu saya masih tinggal di Surabaya. Beberapa hari kemudian Pak Harto memberikan isyarat bahwa jika beliau kembali mendapat mandat dari MPR, maka Prof. DR. Ing. BJ. Habibie lah yang akan mendampinginya jadi wakil presiden. Respon pasar sangat negatif, nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga 20.000,- per USD. Kemudian terjadi rush money di bank BCA, bank yang bisa dikatakan terbesar saat itu dan menguasai segmen terbesar nasabah perbankan Indonesia.

Awal tahun 1998 itu seingat saya bulan Ramadhan. Masyarakat Indonesia yang biasanya menyambut lebaran dengan suka cita dan semarak belanja, tahun tersebut menahan diri karena krisis ekonomi yang kian membelit sejak Juli 1997. Tak ada pilihan lain bagi Pak Harto selain meminta bantuan kepada Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund, IMF) untuk segera mengucurkan dana siaga demi memulihkan perekonomian Indonesia yang sudah berdarah-darah. Akhirnya, pada 15 Januari 1998, Letter of Intent (LoI) pun terpaksa ditandatangani oleh Pak Harto disaksikan Managing Director IMF saat itu, Michel Chamdessus, yang bersedekap di samping Pak Harto. Foto itu kemudian menjadi sangat fenomenal, dianggap sebagai perlambang Indonesia menyerahkan kedaulatan ekonominya kepada IMF.

Ekonomi kian memburuk, bank-bank berguguran kena pisau likuidasi Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad. Gelombang PHK di berbagai perusahaan swasta terus terjadi. Saat itu saya masih baru memasuki tahun ke-5 bekerja di sebuah BUMN, masih sangat bersyukur karena kondisi BUMN relatif masih bagus, tidak terjadi PHK maupun merumahkan karyawan.

Saat itu saya berlangganan koran pada sebuah kios penjual koran dan majalah dekat tempat tinggal saya. Sesekali, selepas Isya, saya datang ke kios itu untuk membeli majalah atau tabloid berita. Jaman itu internet masih tergolong barang mewah, jadi media onlen belum ada. Karena saya hobby membaca dan selalu ingin tahu kondisi negeri ini, berlangganan 1 koran tidaklah cukup. Ulasan mendalam dari tabloid atau majalah berita membantu memuaskan dahaga saya akan informasi. Nah, pemilik kios itu kebetulan orangnya suka berdiskusi. Saya tak pernah usil bertanya apa latar belakang pendidikan si Mas pemilik kios koran, taoi menilik tutur katanya, kedalamannya menganalisasi situasi dan kondisi, saya yakin dia cukup berpendidikan. Salah satu topik diskusi kami yang paling “gayeng” ya soal kondisi negara yang makin “panas”. Dia bertanya apa prediksi saya atas kondisi negeri ini. Saat itu saya bilang Pak Harto kemungkinan besar akan jatuh. Lho tapi kan tentara masih sangat kuat, kata si Mas pemilik kios. Memang saat itu Pak Harto total dibackup TNI (masih bernama ABRI dan Kepolisian masih berada di dalam ABRI).

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.