Monday, 16 December 2019

Anies, Ikon Kerakyatan dan Ke-Indonesiaan

Anies, Ikon Kerakyatan dan Ke-Indonesiaan

Jakarta, Swamedium.com — Sosok yang lebih dikenal sebagai “Gubernur Indonesia” ini lebih memilih fokus bekerja untuk dua aspek yaitu pertama, aspek kerakyatan, dan kedua, aspek ke-indonesiaan.

Kerakyatan identik dengan keadilan. Jalur yang ditempuh adalah memberi akses kepada rakyat bawah untuk tumbuh dan mengejar ketertinggalannya. Kita tahu, disparitas rakyat kecil dengan kelompok kaya terlalu jauh.

Menurut ekonom Faesal Basri, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 45,4 persen kekayaan nasional. 10 persen menguasa 74,8 persen kekayaan nasional.

Kesenjangan rakyat Indonesia sebagaimana yang dilansir oleh Independent.co.uk (2/12/2016) angkanya mencapai 49,3 persen. Artinya, satu persen orang Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan negara.

Orang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Artinya makin jauh jarak kekayaannya. Kaidah ini tak hanya ada di lagu Rhoma Irama, tapi terbukti adanya.

Dari tahun 2006-2017, kekayaan 40 orang di Indonesia meningkat dari US$ 22 miliar mejadi US$ 119 miliar, kata Arif Budimanta, Wakil Ketua Umum Ekonomi dan Industri Indonesia (detikFinance, 27/12/2017)

Fakta kesenjangan yang semakin lebar ini nampaknya menjadi fokus pilihan program alumnus Fakultas Ekonomi UGM ini. Karenanya, Anies membuat langkah-langkah untuk merapatkan jarak kesenjangan tersebut.

Diantara langkah-langkah yang dilakukan Anies dan ini sudah diketahui oleh publik adalah menghentikan proyek reklamasi. Reklamasi adalah hunian dan tempat bisnis orang-orang kaya. Tidak saja dari dalam negeri, tapi terutama promosi dan penjualannya justru banyak di luar negeri.

Anda bisa bayangkan jika 17 pulau reklamasi itu dibangun sebagai hunian dan bisnis eksklusif, maka hanya orang-orang kaya yang bisa tinggal dan memutar uangnya disitu. Apalagi jika itu adalah orang-orang asing dari Tiongkok, Hongkong dan Singapura.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.