Monday, 14 October 2019

Orang Betawi dan ‘Perhimpoenan Kaoem Betawi’

Orang Betawi dan ‘Perhimpoenan Kaoem Betawi’

Foto: Ilustrasi generasi muda Betawi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Perkumpulan Betawi Kita yang selama ini konsisten menggulirkan semangat maen pikiran di Betawi, kembali menggelar diskusi (seri ke-33) pada 21 Juli 2019. Acara yang bertempat di Zona Embrio, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini menghadirkan dua pembicara wanita, Dr. Halimatusa’diah, M.Si dan Dr. Siswantari Sijono, M.Hum.

Pembicara pertama, Halimatusa’diah peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengulas tentang Menjadi Orang Betawi. Lalu, Siswantari, dosen Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Budaya yang akan mengulas tentang Perhimpoenan Kaoem Betawi.

Menjadi Orang Betawi

Halimatusa’diah dalam diskusi ini akan memaparkan hasil penelitiannya (disertasi) yang berjudul Menjadi Orang Betawi. Dalam makalahnya, Halimah memberi judul Menjadi Orang Betawi: Mengungkap ‘Rasa’, Membangun Makna. Sebuah telaah pengalaman komunikasi individu bicultural di Jakarta.

Halimatusa’diah yang merupakan peneliti Kajian Komunikasi Antarbudaya Puslit Masyarakat dan Budaya LIPI membuka diskusinya dengan bercerita tentang pernikahan yang dilakukan orang Betawi dengan etnis lain. Lalu, melahirkan generasi-generasi baru yang
mewarisi identitas-identitas yang dimiliki kedua orang tuanya, namun anak-anak dari hasil pernikahan etnis ini banyak yang tidak merasa sebagai anak Betawi atau sebagai anak dari etnis orang tuanya. Jika hal terjadi maka dikhawatirkan budaya Betawi kehilangan pendukungnya. Ujung-ujungnya budaya Betawi bisa punah.

Di tengah kegelisahan orang Betawi akan ancaman atas eksistensi dan pendukung
budayanya, justru ditemukan individu-individu yang terlahir dari pernikahan antaretnis di Jakarta, mengidentifikasi dirinya sebagai Orang Betawi.

Seperti dikemukakan Knorr (2014: 195), “Young people in Jakarta also tend to describe themselves as Betawi”. Menurut Knorr, selain dikenal sebagai kelompok etnik lokal Jakarta, Betawi juga telah menjadi pilihan bagi pemuda-pemuda migran yang lahir di Jakarta untuk mengidentifikasi dirinya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.