Minggu, 25 Oktober 2020

Kemkominfo: Salah Data, Salah Input atau Salah Ciduk?

Kemkominfo: Salah Data, Salah Input atau Salah Ciduk?

Foto: Ilustrasi. (ist)

Bandung, Swamedium.com — Kemarin, 29 Juli 2019, sebuah kicauan di twitter menarik perhatian tuips (tweeps: warga twitter) terutama mereka yang menjadi oposisi rezim Jokowi. Salah satunya saya.

Twit dari pemilik akun @DianFatwa itu berbunyi:

“Bangun pagi dapat email dr @Twitter soal konten tweet saya. Dianggap melanggar UU ITE. @kemkominfo can you explain wich part of my content that breaks the law? As a newbiew in Indonesia that’s a truly innocent question.”

@DianFatwa

Sebagai bukti disertakan dua gambar tangkap layar: yang pertama surel dari Pengacara Twitter bahwa Ministry of Communication and Information Technology of Indonesia (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI) meminta Twitter menindak akun @DianFatwa karena salah satu kicauannya telah melanggar UU ITE No.11/2008 Pasal 28 ayat (1). Lampiran kedua adalah tangkap layar cuitan yang dimaksud.

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

UU ITE No. 11/2008 Pasal 28 ayat (1)

Reaksi Warganet

Yang pertama keluar dari mulut saya adalah: “Welcome to 1984, sista!”

(1984 adalah judul album konsep Rick Wakeman ke-6 rilis tahun 1981 terinspirasi oleh novel distopia George Orwell dengan judul yang sama.)

Sampai tulisan ini dibuat, komentar-komentar yang muncul adalah dukungan kepada @DianFatwa, (atau merundung @kemkominfo), di antaranya:

Jawabnya : Substansi Tweet tidak sesuai tdk sesuai, merugikan, mengancam “kepentingan” penguasa #Clear#

@TulusWibi

Santai mba, mungkin sudah biasa itu. Nanti mungkin ada kata2 human error, salah input, salah data, salah ciduk, salah prsepsi, salah aja smua hahahaha. Keep strong mba, jgn takut.

@firman_ya13

I have genuinely no idea, kak. I’m baffled by this. Discussing it with a friend and all we can come up with is that they assumed it had a negative implication? But even then, criticism like this can be both valid and valuable for improving institutions.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.