Monday, 14 October 2019

Penampilan Cinta Laura di JFC Mengundang Kecaman Publik

Penampilan Cinta Laura di JFC Mengundang Kecaman Publik

Foto: Artis Cinta Laura yang penampilannya di Jember Fashion Carnaval mengundang kecaman publik. (ist)

Jember, Swamedium.com — Penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang digelar pada hari Ahad (4/8/2019) menuai kecaman. Penampilan seksi sebagian talenta atau peserta, terutama artis Cinta Laura, membuat kalangan tokoh masyarakat menyayangkan. Sementara media sosial diwarnai pernyataan protes dari sejumlah akun milik warga Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Terutama penampilan seksi artis Cinta Laura dan banyak model lainnya di JFC 2019 secara vulgar. Dalam kegiatan itu bintang film The Ninth Passenger tersebut memakai busana ‘bupati’ atau ‘buka paha tinggi-tinggi’, yang dinilai mencederai Kota Jember yang terkenal dengan Kota Santri.

Bagaimana Cinta Laura bisa hadir di JFC dan tampil sebagai salah satu talenta atau peserta?

“Kami dulu punya peserta JFC, yang belajar selama dua tahun ikut JFC. Dia menjadi make up artist ternama di Jakarta. Dialah yang jadi make up artist Cinta Laura dan banyak artis. Dia bercerita tentang JFC, sehingga akhirnya Cinta Laura memutuskan ikut ambil bagian tanpa dibayar,” kata CEO Jember Fashion Carnaval, Suyanto.

Kecaman MUI Jatim

Sekretaris MUI Provinsi Jawa Timur Muhammad Yunus menyesalkan perhelatan internasional Jember Fashion Carnaval yang dianggap melanggar norma-norma kesusilaan dan agama dengan menghadirkan penampilan yang vulgar.

“MUI (Jawa Timur) maupun MUI di Jember sangat menyayangkan kenapa muncul sebuah pertunjukan yang melanggar tata aturan, melanggar etika dan norma sosial. Ini tidak sesuai dengan adat masyarakat Kabupaten Jember yang mayoritas adalah muslim,” kata Yunus dilansir Indonesia Inside, Jumat (9/8/2019).

Yunus menegaskan, perlu dibuat aturan, baik itu peraturan daerah (Perda) maupun peraturan bupati (Perbup) sebagai referensi pelaksanaan kegiatan serupa dikemudian hari. Prinsipnya, perlu dijaga harmonisasi agar kegiatan seni budaya tidak berbenturan dengan kearifan lokal/lokal wisdom apalagi melanggar aturran agama.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.