Tuesday, 20 August 2019

Ucapan Selamat Ied

Ucapan Selamat Ied

Foto: Sholat Ied di Mabes TNI Cilangkap. (lucky/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Umat Islam dianjurkan menyampaikan tahni’ah (ucapan selamat) kepada sesama muslim ketika mendapatkan kenikmatan.

Namun ketika tiba Iedul Fitri dan Iedul Adha, ucapan kenikmatan itu mendapat perhatian khusus hingga redaksinya, sebagaimana diamalkan para shahabat Nabi dan umat Islam pada generasi selanjutnya. Bagaimanakah tahni’ah iedul fitri dan Iedul Adha itu?

Pengertian Tahni’ah

Secara bahasa tahni’ah (التَّهْنِئَةُ) sebalik dari ta’ziyah (التَّعْزِيَةُ). Maksudnya, tahniah berarti ucapan selamat, sedangkan ta’ziyah berarti ucapan bela sungkawa (berduka cita). [1]

Adapun secara istilah, makna tahniah secara umum tidak berbeda dengan makna bahasa, namun dilihat dari konteks peristiwa istilah tahniah memiliki beberapa makna spesifik (khusus). Seperti tabriik (mendoakan berkah), tabsyiir (memberi kabar baik), tarfi’ah (ucapan selamat nikah), dan lain-lain.

Hukum Tahniah Secara Umum

Secara umum hukum tahniah adalah mustahab (sunat), karena

tahniah merupakan perpaduan antara tabriik dan doa dari seorang muslim kepada sesama muslim lainnya atas perkara yang menggembirakan dan disenanginya.
Pada tahniah terdapat mawaaddah (saling mencintai), taraahum (saling mengasihi), dan ta’aathuf (saling menaruh simpati) di antara kaum muslim.
Anjuran umum menyampaikan tahni’ah kepada sesama muslim ketika mendapatkan kenikmatan diungkap didalam Alquran:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” QS. Thur:19

Sedangkan dalam hadis diperoleh dari beberapa peristiwa, antara lain

عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : أُنْزِلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : {إِنَّا فَتَحْنَا لَك فَتْحًا مُبِينًا} إِلَى آخِرِ الآيَةِ ، مَرْجِعَهُ مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ ، وَأَصْحَابُهُ مُخَالِطُو الْحُزْنِ وَالْكَآبَةِ ، قَالَ : نَزَلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا جَمِيعًا ، فَلَمَّا تَلاَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : هَنِيئًا مَرِيئًا ، قَدْ بَيَّنَ اللَّهُ مَا يُفْعَلُ بِكَ ، فَمَاذَا يُفْعَلُ بِنَا ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ الآيَةَ الَّتِي بَعْدَهَا : {لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ} حَتَّى خَتَمَ الآيَةَ.
Dari Anas, ia berkata, “Telah diturunkan ayat Inna fatahnaa laka fathan mubinan (al-Fath:1) kepada rasul ketika kembali dari Hudaibiyah, dan para sahabatnya larut dalam kesedihan. Beliau bersabda, ‘Telah turun ayat kepadaku yang lebih aku cintai daripada dunia dan seluruh isinya. Ketika Rasulullah saw. membacanya, seorang laki-laki dari kaum itu berkat, ‘selamat lagi baik akibatnya, sungguh Allah telah menjelaskan apa yang akan diperbuat-Nya kepada Anda, apa yang akan diperbuat kepada kami? Maka Allah menurunkan ayat setelahnya: liyudkhilal mu’minina…hingga akhir ayat’. HR. Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu Hiban, dan Abu Ya’la.[2]

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)