Friday, 20 September 2019

Peringati Hari Kemerdekaan, ITJ Ajak Elemen Bangsa kembali kepada Kepribadian Pancasila

Peringati Hari Kemerdekaan, ITJ Ajak Elemen Bangsa kembali kepada Kepribadian Pancasila

Foto: Koordinator Pusat Indonesia Tanpa JIL, Akmal Sjafril. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Memeringati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, #IndonesiaTanpaJIL menyerukan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk kembali kepada kepribadian bangsa yakni Pancasila. ITJ menilai, 74 tahun merupakan waktu yang masih relatif singkat untuk sebuah bangsa yamg besar. Bagi ITJ, saat ini Indonesia masih belum bebas dari tekanan asing mulai dari segi ekonomi, politik, sosial, hingga pemikiran.

Koordinator Pusat ITJ, Akmal Sjafril mengatakan tekanan dari segi pemikiran terbukti sangat gawat, sehingga berakibat lebih fatal. Sebab setiap keputusan yang diambil oleh bangsa ini merupakan buah dari sebuah pemikiran.

“Kami, #IndonesiaTanpaJIL, menyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019 dengan menyeru seluruh elemen bangsa untuk meninggalkan perasaan inferior dan mengenang kembali kepribadian bangsa, yaitu kepribadian yang berdasarkan Pancasila, berakar tunjang dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan melupakan sejarah,” seru Akmal, di Jakarta, Sabtu (17/8).

Menurut Akmal, pemikiran terbukti lebih gawat, sebab akibatnya lebih fatal. Bangsa Indonesia masih ‘dipaksa’ untuk melihat dirinya sendiri dengan kacamata Barat; masyarakat Jawa melihat sejarahnya dari kacamata Raffles dan Geertz, sekularisme terus dipaksakan, dosa-dosa komunisme hendak dilupakan, agama dinistakan dan sumbangsih umatnya diabaikan, bahkan kini penyimpangan seksual mau dianggap normal, demi mendapatkan penilaian baik dari bangsa-bangsa lain.

“Hingga saat ini setiap tahunnya, bangsa Indonesia menghadapi banyak tantangan, dan setiap saatnya juga bangsa ini harus membuktikan ketangguhannya,” lanjut Akmal.

Meskipun telah merdeka sejak 1945, perjalanan sejarah Indonesia tidak ‘lurus-lurus’ saja. Setelah umat beragama merebut kemerdekaan, justru kaum sekuler dan komunis-lah yang terus-menerus berupaya mengklaim kekuasaan. Demi memuluskan ambisinya, mereka bersedia melakukan apa saja, termasuk menumpahkan darah. (ima)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)