Jumat, 03 April 2020

Hutan, Hujan, dan Doa

Hutan, Hujan, dan Doa

Foto: Syahganda Nainggolan. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Ketua Pemuda Pancasila salah satu kota di Kalimantan Barat menelponku tadi mengisahkan di kantornya yang ber AC, bau asap juga masuk ke dalam. Filter AC tidak mampu lagi melindungi kejamnya asap akibat kebakaran atau pembakaran lahan2 di sana. Sudah seminggu transportasi udara Jakarta-Pontianak, katanya, mengalami gangguan asap, bahkan kebanyakan menghentikan penerbangan tujuan itu, anak2 memakai masker sambil menahan nafas sesak, ular-ular banyak yang mati, monyet2 sakit terkapar, banyak binatang alam lainnya korban, perekonomian praktis hampir lumpuh.

Pagi tadi, di sisi lain, saya memperhatikan berita2 online Malaysia. IOI, sebuah perusahan Malaysia mengeluarkan statement membantah perusahaannya sudah di “sealed off” (ditutup) Jokowi. Pasalnya kantor berita Reuters menyatakan PT. Sukses Karya Sawit, anak perusahaan IOI, dalam judul “Indonesia hits back at Malaysia over forest fire”, 13/9/19, salah satu dari 4 perusahaan Malaysia yang membakar hutan di Riau, sehingga asapnya menyerang 5 daerah negara bagian Malaysia, Singapore dan berbagai kawasan Asean lain.

Riau dan Kalimantan adalah dua daerah Indonesia yang beberapa tahun belakangan ini menjadi sumber pemusnahan oksigen dalam skala Asean. Nitizen di dunia maya mencaci maki Indonesia setiap musim kemarau tiba. Sebab, dalam musim kemarau inilah asap menjadi “teroris” yang menyerang manusia dan hewan tanpa ampun dan transnational.

Pembakaran hutan adalah konsekwensi logis pengembangan kebun kelapa sawit secara terus menerus dan bisnis kayu. Pada tahun 2000 luasan kepala sawit di Indonesia hanya seluaz 4, 1 juta Ha. Tahun 2017 sudah mencapai 12 juta Ha. Tahun 2018 seluas 14 jutaan Ha. Bahkan KPK menyatakan luas ijin kebun kelapa sawit sudah mencapai 20 juta Ha.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.