Sunday, 15 December 2019

Indonesia Dibajak Para Oportunis Menghilangkan Jejak Misteri Pilpres

Indonesia Dibajak Para Oportunis Menghilangkan Jejak Misteri Pilpres

Foto: ilustrasi kursi RI 1 (ist)

Bandung, Swamedium.com — Pilpres 2019 curang. Belum ada investigasi independen untuk membantah kecurangan. Seorang Menteri senior mengancam pidana bila ada yang teriak curang. Jika ada aksi, dibarengi dengan aksi tandingan. Aksi dengan massa tak jelas dan iming-iming uang. Rakyat dibungkam hingga 20 Oktober nanti. Mereka bersatu menghadapi penggugat hasil Pilpres. Walaupun kini mereka pecah kongsi. Ambisi dan keserakahan duniawi telah membuat mata mereka gelap. Sementara rakyat hanya jadi objek politik untuk memenuhi asas formalitas dan legalitas belaka.

Banyak kejadian aneh pasca Pilpres. Rakyat jadi korban. Semua kekuatan politik bersatu melawan Pilpres jujur dan adil. Semua sibuk mengamankan siapa dapat apa. Ribut-ribut kursi membuat rakyat muak. Rakyat merana, menjerit dan menangis. Hidup makin susah.

Kondisi negara semakin semrawut. Rakyat di adu domba dengan berbagai isu. Rakyat digiring untuk melupakan Pilpres curang yang berdarah-darah. Pengalihan isu berhasil mengalihkan perhatian rakyat. Rakyat akhirnya sibuk berdebat dan membully setiap isu yang dimainkan. Rakyat benar-benar lupa dengan isu utama, hasil Pilpres yang penuh misteri.

Akhirnya rakyat sibuk merespon setiap isu. Sebut saja, soal Menteri Agama yang berasal dari Partai Islam berlogo tempat suci ummat Islam, seharusnya garda terdepan membela ummat Islam, tak henti-henti mengeluarkan ide keblinger. Jihad dihapus dari materi pelajaran hingga ummat Islam dilarang menganggap Islam sebagai agama yang paling benar. Sedangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, ingin mengadopsi sistem pendidikan sekolah Katolik. Memang sistem pendidikan di Muhammadiyah kurang baik sehingga harus mengadopsi sistem pendidikan agama lain?. Bukankah sistem pendidikan pesantren lebih baik dan lebih teruji. Telah menghasilkan ulama dan pemimpin baik lokal maupun nasional.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.