Thursday, 17 October 2019

Karhutla: Cerita Usang

Karhutla: Cerita Usang

Foto: Salah satu spot kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Gunung Steleng Kecamatan Penajam. (Tribunnews)

Jakarta, Swamedium.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jadi bencana rutin (hampir) tiap tahun. Asap sebagai hasilnya bikin sengsara jutaan orang baik di Indonesia maupun negeri jiran.

Ini bukan cerita baru. Kalau dari pendapat pribadi saya, ini tentang dua soal saja: kemampuan ‘membina’ perusahaan-perusahaan itu (menang-menangan kekuasaan) dan kemampuan mencegah serta menindak. Jadi kalau karhutla masih masif, ya tinggal cek yang dua faktor itu.

Tahun 1999 saya mewakili Majalah Mingguan GAMMA diajak Sekjen Departemen Kehutanan waktu itu, Soeripto, sidak (inspeksi mendadak) ke Riau soal kebakaran yang terjadi, juga illegal logging. Awalnya cuma saya sendiri yang diajak, tak ada media lain. Tapi tau-tau menjelang berangkat, Majalah Tempo bergabung. Saya lupa siapa, yang jelas nama rekan tersebut Arif (ada beberapa Arif di sana, waktu itu).

Kami naik heli Super Puma, keliling udara Riau. Staf Dephut sibuk menunjukkan titik-titik panas dimana asap dan api timbul. Rata-rata terjadinya di lahan yang mau dibuka perusahaan (nah!). Ada juga memang pembakaran lahan oleh penduduk, secara terpisah-pisah. “Cara membakar ini ya paling efisien dan efektif utk membuka dan menyiapkan lahan,” kata mereka, mengakui.

Setelah ke beberapa tempat, kami mendarat di komplek perusahaan, sebut saja PT ANU, yang punya lahan luas untuk tanaman penghasil kayu buat bahan kertas. Kedatangan mendadak Pak Ripto disambut tergopoh-gopoh oleh para petinggi perusahaan. Presentasi tentang kegiatan usaha sehari-hari PT Anu dilakukan seorang direktur.

Saya ingat Pak Ripto mengajukan sejumlah pertanyaan kritis dan sering tak puas dengan penjelasan perusahaan. Suaranya meninggi di beberapa kesempatan. Saya bisa melihat wajah para petinggi itu gugup, nggak nyaman.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.