Monday, 21 October 2019

BPJS Kesehatan dan Cerita tentang Esok

BPJS Kesehatan dan Cerita tentang Esok

Jakarta, Swamedium.com — Mislan dan salamah, pasangan suami istri yang mengelola kedai harian didepan rumahnya. Salamah lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga mengurus 3 anak yang beranjak dewasa.

Hari ini, rumah mereka kedatangan Debt Colektor (DC) dari perusahaan pembiayaan sepeda motor yang sudah 1 tahun berjalan kreditnya. Ada tunggakan 3 bulan, dan ini kunjungan ke sekian kalinya dari DC.

“Silahkan bawa aja pak motornya. Saya gak bisa janji lagi. Emang gak ada uang yang bisa saya upayakan”

DC mengambil kendaraan mislan dengan kesedihan salamah. Mau apa lagi, perjanjian kredit emang begitu. Sebelumnya, satu set TV dan parabola telah di ambil juga oleh DC toko elektronik karena ketidakmampuan membayar angusuran yang hanya 230 ribu/bulan.

3 hari kemudian, keluarga mislan di datangi oleh DC BPJS kesehatan. Tunggakan premi atas asuransi kesehatan mereka sudah masuk bulan ke-6.

Ada 5 anggota keluarga di Kartu keluarga, semuanya di kelas 3. Mislan dan salamah saling berpandangan saat DC bpjs kesehatan memberikan berbagai ancaman atas tunggakan yang terjadi. Tidak akan di layani saat pengurusan perizinan atau permintaan yang berhubungan dengan administrasi daerah atau negara.

Harus segera di bayar, jika tidak ingin terkena sanksi akumulatif. Jumlah premi dan denda yang harus di bayar, membuat mislan mengusap muka. Salamah hanya bisa menatap sedih pada suaminya, dia gak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar mencari pemasukan tambahan.

“Bisakah kami di masukkan ke golongan keluarga miskin yang bebas premi pak?”

Kata salamah pada DV bpjs kesehatan.

“Oooo gak bisa, menurut penjelasan BPS, golongan orang miskin adalah orang yang berpenghasilan 13 ribu/hari. Bukan itu saja, di lihat dari kondisi bapak dan ibu, rumah ibu gak layak jika di kategorikan keluarga miskin.”

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.