Sunday, 20 October 2019

Narasi Radikalisme

Narasi Radikalisme

Foto: Ustaz Felix Siauw.

Jakarta, Swamedium.com — Kita harus berhati-hati dengan narasi, sebab ia adalah sebab dari kejadian, asal mula dari perubahan. Ada perubahan baik, dan tentu saja ada perubahan yang buruk.

Para penjajah misalnya, membangun narasi bahwa mereka adalah penolong, mengenalkan modernitas, ras lebih unggul, untuk menutupi perampokan dan penjarahan.

Narasi ini yang dipakai Amerika untuk membantai Indian, Belanda untuk kuasai Nusantara, sampai Israel yang membunuhi Muslim di Baitul Maqdis.

Contoh lain, kaum anti agama, baik dari komunis atau liberalis sedari dulu membangun narasi, bahwa masalah utama bangsa adalah radikalisme agama.

Narasi ini pernah terjadi di tahun 1955 – 1960 yang berujung pada pembubaran Masyumi dan teror bagi mereka yang mendukung perjuangan Islam di masanya.

Saat ini, narasi radikalisme ini kembali digiatkan, kemana narasi ini ditujukan, semua sudah paham. Yaitu indonesia tanpa aturan agama, Indonesia yang sekular.

Lihat saja yang sedang ramai, dosen IPB yang ditangkap dengan tuduhan merencana kerusuhan, dan itu seperti “mengamini” penelitian yang selama ini digencarkan.

Bahwa radikalisme itu ada di kampus, bahwa ini masalah yang sangat besar. Tertutuplah bencana di depan mata di negeri ini, tentang kedaulatan, ekonomi, korupsi, hilang.

Siapa yang disalahkan setelah itu? Rohis, masjid, dan tiap-tiap kegiatan “Islami” yang ada di kampus. Biangnya? Siapa lagi kalau bukan HTI dan Ikhwanul Muslimin. Klise.

Di negeri ini, tak ada dosa selain radikalisme. Tak ada pendosa kecuali HTI, Ikhwanul Muslimin, FPI, dan siapapun yang Islami akan dituduh sama.

Sedangkan, pembunuhan bisa hilang kasusnya, pelanggaran HAM berat bisa dicitrakan baik, pembantaian bisa direka dan diedit dengan angle yang pas dan kamera yang bagus.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.