Senin, 25 Januari 2021

Kita, Anak dari Lingkungan

Kita, Anak dari Lingkungan

Foto: Ilustrasi. (ist)

Bekasi, Swamedium.com — Indonesia 20 tahun ke depan itu tergantung ruang-ruang kelas hari ini. Selain ruang-ruang kelas, tergantung rumah-rumah hari ini.
Gimana sih contoh yang diberikan orang tua terhadap anaknya? Gimana sih cara pengasuhannya? Apakah kita ngasuhnya pakai gadget? Mendiamkan anak nangis hari ini paling gampang kasi gadget. Anak umur satu atau dua tahun kan banyak sudah menggunakan gadget.
No
Anak-anak milenial ini kan hidup di dunia gadget. Sementara kita bukan generasi yang hidup di dunia gadget ya sebenarnya. Maka ketika saat ini mengarah ke gadget maka 20 tahun lagi begitulah kejadiannya.

Banner Iklan Swamedium

Yang menarik juga adalah bahwa al insan bintu bi’ah (al bi’ah = lingkungan). Manusia itu adalah anak dari lingkungannya. Begitu juga kita. Kita ini adalah anak dari lingkungan kita.

Sekarang kalau kita ditanya, lingkungan yang paling dekat dengan kita apa? Yang rutin kita datangi, apa? Kalau yang sering kita datangi misalnya lingkungan alumni SMA, alumni SMP, alumni SD, atau dunia sosialita, kita adalah anak dari lingkungan itu.

Kenapa pengajian itu seminggu sekali (misalnya)? Karena pengajian seminggu sekali itu akan membentuk sebuah lingkungan. Kalau kita datangnya sebulan sekali, maka kita sebetulnya bukan anak pengajian. Kenapa? Karena lingkungan kita, bi’ah kita adalah apa yang sering kita datangi. Dan kita terikat padanya. Karena itu penting bagi kita orang dewasa, untuk menyadari kita ini anak lingkungan yang mana?

Begitu juga dengan rumah tangga kita (bagi yang sudah berumah tangga). Rumah tangga kita apakah rumah tangga ring tinju? Atau rumah tangga infotainment yang isinya gosip? Atau rumah tangga dakwah?

Nah, apa yang sering kita perankan pada saat kita dengan suami dan anak sedang bersama-sama? Itu adalah lingkungan yang membentuk orang-orang yang ada di dalamnya.
Jadi kebayang ya…kalau misalnya kita ketemu yang kita bicarakan,”Tau nggak tadi itu ada itu tuh gosip ini…” Bapaknya comment, ibunya comment, anaknya comment… Pada saat itu semua manusia yang ada di situ adalah manusia infotainment.
Jadi bi’ah yang umum itu adalah lingkungan. Kebanyakan orang mencari lingkungan yang murah, lingkungan yang terjangkau. Tapi kadang kita lupa melihat lingkungan di sekitarnya.

Ada sebuah wilayah di daerah Kebagusan. Dulu tempat itu adalah tempat pembuangan sampah. Dan di situ ada sebuah TPA. Jumlah yang belajar sudah sekitar 90-an. TPA itu berdiri sudah sangat lama. Pengajarnya adalah suami-istri yang mendirikan TPA dan para alumni.
Ternyata, kenapa suami istri itu membangun TPA tersebut, karena orang tua nggak peduli dengan masalah akidah. Dan merubah akidah masyarakaat menjadi salimul aqidah (akidah yang selamat), itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Mungkin kitapun pernah menemukan ada seseorang yang udah ngaji, ngajinya rajin, begitu HP-nya hilang…”Yuk ke dukun.” Padahal ngajinya rajin. Itulah susahnya merubah akidah.

Kembali ke suami-istri yang membuat TPA tadi. Yang belajar di TPA itu dari SD sampai yang sudah bekerja. Kemudian berceritalah si bapak itu,”Kalau untuk yang udah kerja, saya udah cariin bu, guru ngajinya. Tapi pas dengan ustadzahnya, dia nggak terbuka, ngak cerita apa-apa. Sementara kalau sama saya tuh cerita bisa dari maghrib sampai jam 11 malam. Cuma kan saya nggak enak, biar gimana kan mereka perempuan ya…walaupun mereka dulunya murid saya, sekarang kan mereka sudah kerja. Tapi ketika dilepas, anak-anak itu yang terjadi MBA (married by accident). Saya bu, sudah vulgar bu ngasi nasehatnya.”

Dia itu seorang bapak-bapak, dia punya wa grup anak-anak muridnya yang sudah kerja. Contoh nasihatnya…’Jaga keperawanan’…ya sevulgar itu. kebayang ya…itu kan vulgar banget sebetulnya untuk ukuran nasihat dari seorang guru ngaji laki-laki ke perempuan.

“Tapi bu kalau nggak kaya’ gitu udah kejadian banyak nih.” Nah itulah yang terjadi. Padahal sebetulnya masalah keperawanan itu yang lebih konsen harusnya siapa? Orang tua. Bukan guru ngaji. Tapi ya tadi, orang tua tidak peduli masalah akidah.

Ini menggambarkan bahwa fungsi keluarga sebagai guru untuk anak-anaknya di masyarakat kita itu nggak berjalan. Setiap orang tua itu diminta amanah pengasuhannya. Bahwa setiap ibu itu adalah pendidik buat anak-anaknya, itu masih jauh di masyarakat kita.

Nah kembali lagi tadi, bahwa al insan itu adalah bintu al bi’ah bahwa kita ini adalah anak-anak lingkungan kita termasuk kita orang dewasa. Kalau kita nggak bisa menciptakan lingkungan yang baik, maka kita akan terus tergerus menjadi manusia-manusia yang buruk.

Nah adanya pengajian, adanya pembinaan-pembinaan ini adalah sebuah lingkungan baik yang diciptakan. Jadi bagaimana lingkungan ini memberi imunitas kepada kita, itu terantung kita.

Bagaimana kia bisa mendapatkan, (misalnya) karakter disiplin itu juga tergantung bagaimana kita menjaga pendidikan kita. Bagaimana kita membangun sebuah komitmen, bagaimana kita punya komitmen terhadap pendidikan, semua tergantung kita.

Kalau kita nggak punya lingkungan yang baik yang mencetak kita menjadi manusia baik maka kita akan larut dalam masyarakat itu. Sekarang kalau kita ditanya, lingkungan terbaik di masyarakat hari ini apa? Sekolah? Pengajian? Pesantren?

Agama kita juga mengajarkan kita untuk memilih/membuat lingkungan yang baik. Ketika kita jadi orang kebanyakan tak peduli mau bagaimanapun lingkungan kita, ya kita nggak bisa juga nyalahin siapa-siapa kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap karakter anak kita (misalnya). Kan kita sudah disuruh untuk memilih/membuat lingkungan yang menjadikan kita lebih baik.

Artinya masing-masing kita ini bertanggung jawab untuk membuat lingkungan yang baik. Di dalam keluarga, pastikan keluarga kita adalah lingkungan yang baik untuk manusia-manusia yang ada di dalamnya. Kalau kita nggak punya pola kebaikan di sana, bisa-bisa (misalnya) ketika ada masalah diem-dieman aja…nggak diselesaikan, nanti tau-tau baik sendiri. Yang begini ini, masalahnya nggak selesai, malah bagai api dalam sekam. Kan ada ya model keluarga yang seperti itu.

Terhadap anak yang masih kecil juga, kalau kita berpikir anak masih kecil itu belum tau apa-apa ketika kita bermasalah, ingat…dia punya sense lho!! Anak-anak itu memang belum paham, tapi dia tau ada sesuatu dan itu menjadi sesuatu yang tersimpan di alam bawah sadarnya.

Bagi yang punya anak kecil perlu baca buku psikologi. Ada sebuah buku berjudul Sybil. Buku itu bagus banget. Bagaimana kepribadian seseorang bisa pecah, itu dimulai dari umur 3 tahun. Kisah ini terjadi di Perang Dunia I, tapi dari situ kita bisa belajar bahwa ketika seorang anak itu berada di sebuah keluarga yang hancur-hancuran, bapaknya biasa berteriak kalau siang dalam kondisi berantem dengan istrinya, kalau malam ‘berantem’ juga dalam versi yang lain (maaf), tapi anak nggak ngerti. Yang dia pahami, kalau siang berantemnya begitu, kalau malam berantemnya beda.

Bisa dibayangkan, kondisi keluarganya sangat terbatas. Kisah Sybil ini kisah keluarga di Eropa pada Perang Dunia I. Akhirnya tumbuh pemahaman sendiri di dirinya. Dia takut melihat situasi itu. Pada saat dia takut, dia menjelma menjadi pribadi yang lain, dia menjadi sesuatu yang bukan dirinya sampai dia punya 16 kepribadian.
Dia seorang perempuan, tapi ada kepribadiannya yang laki-laki, ada yang lesbi dan itu memang kasus yang fonomenal. Di dalam buku itu diceritakan, ketika dia disuruh menggambar, ketika keribadian A yang keluar gambarnya sangat berbeda dengan ketika kepribadiannya yang muncul B. Dan itu memang diteliti dan akhirnya bisa disatukan kepribadiannya menjadi seorang Sybil lagi.

Jadi kita perlu menyadari peran kita, apalagi di zaman serba tak menentu ini. Banyak kita lihat di youtube kajian tentang akhir zaman. Hadits-hadits yang menyebutkan bahkan Rosululloh menyebutkan, usia umat Islam itu nggak sampai 1500 tahun. Kita sudah sampai di tahun 1441 H. Berarti tinggal 59 tahun lagi. In syaa Allah kita sudah nggak ada.

Tapi kita harus bilang sama anak-anak kita,”Kalian mungkin akan menjadi manusia-manusia akhir zaman.” Untuk anak-anak yang masih kecil kudu disampaikan, karena itu tugas kita.

Artinya fitnah (ujian) itu akan terus bertambah, jadi nanti sampai kiamat fitnahnya nggak akan berkurang. Makin bertambah. Anak-anak kita akan hidup di gelombang dimana kalau nanti di akhir zaman kebenaran itu seperti menggigit akar (ada suatu hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,…tentang adanya penyeru-penyeru ke neraka jahanam, Rosululloh berpesan, untuk meninggalkan semua itu walau engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut).

Semua akan menjadi serba susah banget. Nyari kerja susah kejelasannya, bahkan untuk menjadi baik sajapun tak mudah. Karena kita memang ada di akhir zaman dimana kerusakan itu lebih mudah dibanding perbaikan. Menghina Rosululloh itu di Eropa mendapat ganjaran dan dianggap sebagai penghinaan yang pantas mendapat hukuman. Tapi di tempat lain, orang bisa mendapat gelar doktor karena melegalkan hubungan sex di luar nikah. Dan banyak lagi yang ramai di media-media yang tak terbayangkan kita sebelumnya.

Sekali lagi ya memang nanti fitnahnya akan makin besar. Maka kita perlu memperkuat diri kita. Anak kita adalah anak lingkungan maka kita harus pastikan lingkungan mana yang akan membuat kita dan keturunan kita akan menjadi lebih baik.

Kalau bicara mengenai pendidikan, ya pendidikan itu memang makin lama makin tergerus. Kenapa? Karena sekolah saja sekarang nggak mudah bekerjasama dengan orang tua. Orang tua yang tidak pernah terpapar pengajian itu nggak punya konsep yang sama. Konsep hidupnya material aja…yang penting angka angka angka angka…

Dan sebagai praktisi pendidikan maupun sebagai orang tua mungkin kita menemukan hal yang sama yaitu, orang-orang yang tidak diberi kesempatan untuk dipercaya, untuk menjalankan tanggungjawabnya secara mandiri, anak yang dikékép terus sama orangtuanya, tidak dikasi kepercayaan bahkan untuk hal sepele (seperti uang jajan, tentang manage hidupnya yang dilepas sedikit demi sedikit), maka itu akan membuat mereka tidak mampu mengerjakan apapun.

Nah kita sebagai orang tua, PR nya ada di ‘teganya kita membuat anak mandiri’. Karena mandiri itu awalnya pasti nggak enak.

Siapa yang mulai membiarkan anaknya membawa tas sendiri ke kelas? Kelas berapa? Ada yang mulai di TK? Ada yang mulai tidak menyiapkan barang-barang anaknya ke sekolah? Kelas berapa? Kelas 1 masih disiapin?

Jadi menyiapkan barang-barang sekolah itu adalah salah satu bentuk pelemahan kapasitas anak. Kalau kita nggak tega, kita tidak mengajarkan bagaimana cara dia hidup. Bahkan untuk dia memilih mau pakai baju apa, mau pakai sepatu apa, atau sampai dia kelas 3 kita yang memilihkan baju yang mau dia pakai, berarti kita sudah menghambat proses dia untuk jadi manusia. Kita membuat lingkungan yang membangun anak, itu tergantung pada kita. Jadi jangan salahkan kalau nanti ketika dia sudah menikah, dia punya masalah dengan suaminya, lalu kabur mewek-mewek ke rumah, mau milih kuliah nggak berhasil, stres… Kenapa? Karena sebenarnya itulah produk kita. Lingkungan kita memproduksi anak kita jadi begitu. Walaupun memang di dalam prosesnya itu tidak mudah.
Kita harus support anak-anak bukan untuk untuk melindungi tapi ntuk melepas dia agar mandiri. Kita bisa fokus, sangat perhatian pada anak kita, tujuannya adalah melepas, membuat dia sama seperti saat belajar berjalan. Kalau kita tak pernah tega melepas ya akan lama untuk bisa berjalan.

Rata-rata kita semua siap untuk melepas anak ketika dia berproses dari bayi belajar tengkurep sampai anak kita bisa berdiri, bahkan bisa berjalan. Tapi begitu sekolah dan berinteraksi dengan lingkungan lain kita mulai membuat pagar-pagar. Pagar-pagar itulah yang membuat mereka tidak bisa mandiri, tidak punya kemampuan untuk bisa menyelesaikan masalah.

Tapi ingat, di samping mendidik anak untuk mandiri, kita juga harus tau bagaimana kita memandirikan diri kita sebagai guru bagi keluarga minimal bagi diri sendiri. Kita nggak boleh lupa juga bahwa kita terus bertumbuh. Kitapun harus punya ‘life plan’ juga.

Jadi jangan nempel ke anak dan ke suami. Suami berhasil, kita nggak jadi apa-apa, anak sudah berhasil kita kehilangan, karena kita nempel pengembangan hidup kita ke suami dan ke anak.

Selama ini kita berpikir, keberhasilan kita adalah kalau suami kita berhasil, keberhasilan kita adalah ketika anak berhasil. Ketika anak dan suami udah berhasil, kita nggak dibutuhkan lagi (istilahnya), terus kita ngapain?

Kita ini kan manusia, harus mengembangkan diri juga. Fungsi kita sebagai manusia yang lebih baik seperti itu. Mengembangkan diri nggak selalu terkait sama finansial, tapi bagaimana kita punya manfaat yang besar bagi orang lain. Walaupun sebagai ibu rumah tangga, itu bisa. Kita bisa mengembangkan diri sampai seperti apa. Bukankan hari esok harus lebih baik dari hari ini, hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dari situ aja udah dalam banget tuh.
Yuukk jadikan diri kita bisa berarti bagi orang lain dan bisa menciptakan lingkungan yang membaikkan bagi generasi kita. (*)

*Penulis: Diana (Catatan Diana)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita