Thursday, 21 November 2019

“What’s up with Radicalism?”

“What’s up with Radicalism?”

Foto: Selama satu dekade, Imam Shamsi Ali menjadikan Islamic Cultural Center (ICC), masjid terbesar di New York, Amerika Serikat, sebagai tempatnya berdakwah. (detikcom)

New York, Swamedium.com — Ada satu hal yang seolah menjadi nyanyian bersama kabinet Presiden Jokowi-Ma’ruf kali ini. Yaitu ingin memberantas radikalisme yang menurut mereka sedang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan menjadi ancaman besar bagi eksistensi NKRI.

Perlu dicatat bahwa secara umum radikalisme itu memang masalah dan bahaya. Radikalisme dalam banyak hal membawa keresahan dalam masyarakat. Tidak jarang membawa kepada perpecahan, permusuhan dan konflik bahkan di antara sesama umat beragama.

Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika isu radikalisme ini dilemparkan ke publik, bahkan seolah sengaja dan sistimatis dibangun sebuah persepsi bahwa radikalisme itu nyata dan berbahaya. Tapi isu yang dilemparkan itu tidak memiliki defenisi yang jelas. Akibatnya hanya menumbuhkan keresahan dan kecurigaan di antara masyarakat.

Yang lebih runyam lagi isu radikalisme itu kemudian mengarah kepada satu bentuk. Yaitu bentuk radikalisme agama. Menyedihkannya kemudian adalah ketika isu radikalisme agama itu mengarah kepada agama tertentI.

Penyebutan ciri-ciri fisik yang biasa diidentiikan sebagian sebagai ciri keagamaan, seperti celana cingkrang, janggut, jidat hitam, cadar, dan seterusnya semakin menyimpulkan bahwa yang ditarget dalam hal ini adalah kelompok agama tertentu.

Yang membingunkan memang adalah kenyataan bahwa yang paling getol melemparkan isu radikalisme ini adalah mereka yang secara pribadi memilki latar belakang agama yang (nampak) cukup baik. Merekalah yang seolah kebakaran janggut ingin memberantas apa yang mereka sebut sebagai radikalisme.

Saya ingin sekali lagi menggaris bawahi bahwa radikalisme memang sebuah fenomena yang perlu diwaspadai. Bahkan sejatinya perlu diperangi bersama. Radikalisme tendensinya melihat dirinya paling benar dan orang lain kurang dan salah. Bahkan membawa kepada permusuhan dan perpecahan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.