Saturday, 07 December 2019

Delapan Tahun Sudah, Indonesia Lebih Banyak Membeli daripada Menjual

Delapan Tahun Sudah, Indonesia Lebih Banyak Membeli daripada Menjual

Jakarta, Swamedium.com — “Defisit Transaksi Berjalan Membaik, Ketahanan Eksternal Terjaga” merupakan judul rilis Bank Indonesia hari Jumat lalu. Perlu dicermati tentang membaiknya itu dibandingkan periode kapan. Dan apakah berbagai indikator cukup meyakinkan penilaian terjaganya ketahanan eksternal. Penulis berpandangan berbeda, transaksi berjalan belum cukup membaik dan ketahanan eksternal masih rawan.

Transaksi Berjalan (current account) pada dasarnya mencatat nilai penjualan dan pembelian barang dan jasa dari wilayah Indonesia dengan luar negeri. Tentang barang, mudah difahami oleh publik. Tentang jasa, masih perlu diketahui berbagai cakupannya yang sangat luas.

Ada jasa transportasi, baik untuk barang maupun orang. Ada jasa perjalanan, dari wisatawan yang datang, maupun penduduk Indonesia yang bepergian. Ada jasa terkait dengan utang piutang dan penanaman modal. Ada jasa terkait transfer personal dari pendapatan pekerja Indonesia di luar negeri, serta sebaliknya dari pekerja asing di Indonesia.

Transaksi berjalan dikatakan defisit jika nilai dari seluruh penjualan lebih kecil daripada pembelian selama kurun waktu tertentu. Triwulanan ataupun tahunan. Pada Triwulan III-2019, artinya catatan transaksi dari tanggal 1 Juli sampai dengan 30 September 2019. Diumumkan oleh Bank Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 7,66 miliar.

Transaksi Berjalan Triwulan III-2019 itu mencatat beberapa hal penting berikut ini. Kita menjual barang senilai US$43,64 miliar dan membeli barang senilai US$42,38 miliat, atau masih surplus sebesar US$1,26 miliar.

Akan tetapi, defisit tercatat untuk transaksi jasa-jasa (Services), termasuk jasa pengiriman barang. Baik untuk barang yang dijual (ekspor), maupun yang dibeli (impor). Defisit juga dialami oleh jasa asuransi, jasa keuangan, jasa penggunaan kekayaan intelektual, dan jasa bisnis lainnya.

Surplus transaksi jasa yang cukup besar hanya dialami oleh jasa perjalanan, sebesar US$1,37 miliar. Meski ada musim haji yang berarti kita membeli atau melakukan pembayaran, namun wisatawan mancanegara yang datang masih tercatat membayar lebih banyak.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.