Sunday, 08 December 2019

Sertifikat Pranikah Bukan Syarat Sah Nikah Dalam Islam

Sertifikat Pranikah Bukan Syarat Sah Nikah Dalam Islam

Hawilawati, S.Pd

Tangerang, Swamedium.com — Menko PMK Muhadjir Effendy mendorong kepemilikan sertifikat menikah bagi calon pengantin. Sertifikat tersebut bisa didapat setelah keduanya mengikuti program pembelajaran pranikah.

“Maksud saya sertifikat itu harus dipastikan bahwa setiap calon pasangan pengantin muda, dia memang sudah dibekali pengetahuan dan pemahaman yang sangat cukup tentang itu sebelum dia menikah. Temasuk ini untuk menekan angka perceraian segala itu lho,” kata Muhadjir (detik.com 14/11/19)

Sekretaris PCNU Rembang, Muhtar Nur Halim berpendapat, apabila nantinya sertifikasi nikah digunakan sebagai syarat sah administrasi pernikahan, dirinya tidak setuju dan itu berbahaya. Sertifikasi nikah, kata dia, tidak termasuk syarat sah nikah dalam Islam.

Jika tujuan pelatihan pra-nikah yang rencananya selama tiga bulan bertujuan untuk memberi pemahaman tentang pernikahan terhadap calon pengantin, menurutnya itu sudah ada dan dilakukan oleh lembaga pendidikan.

Ya untuk menyelesaikan salah satu keanehan pemerintah tentang hal ini, tambah saja kurikulum tentang bab nikah di lembaga-lembaga pendidikan,” ungkap Muhtar.

Muhtar menyampaikan, adanya sertifikasi nikah nantinya malah membuat ribet calon pengantin yang akan menikah. Selain itu, kata dia, wacana ini mengingatkan adanya sertifikasi dalam banyak hal di Indonesia seperti sertifikat halal yang diperebutkan antara MUI dengan Kementerian Agama yang ujung-ujungnya adalah proyek dan hal tersebut yang tak diharapkan.(Liputan6.com 20/11/19)

Wajar jika peraturan yang ditetapkan pemerintah terhadap perkara pernikahan 2020 menuai kontroversi, sekilas ketetapan itu baik tuk kelanggengan pernikahan, namun muncul berbagai pertanyaan, seberapa besar urgensi sertifikat tersebut? Apa yang melatarbelakangi adanya ketetapan tersebut? Apakah sertifikasi tersebut dapat menjamin sebagai penangkal perceraian? apakah cukup hanya 3 bulan melakukan edukasi pra nikah calon mempelai kelak matang menjalankan bahtera rumah tangga harmonis? Bagaimana jika calon mempelai belum memenuhi standar sertifikasi yang dimaksud, sementara secara batin ia sudah siap menikah, apakah tidak diperkenankan menikah ?

Pages: 1 2 3 4

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.